penyakit tagged posts

Apa yang Terjadi pada Wanita Hamil Tanpa Morning Sickness?

Mual dan muntah saat tengah mengandung adalah sesuatu yang dapat dikatakan wajar, meski tidak sepenuhnya baik. Pasalnya, jumlah wanita hamil yang mengalami itu menunjukkan angka yang fantastis, yakni hingga 70 persen. Artinya, karena jumlahnya dominan, situasi yang kita kenal dengan morning sickness ini bisa dimaklumi.

Sedangkan sebaliknya, mereka yang tidak mengalami morning sickness malah dianggap “aneh”. Tak jarang, ibu hamil tanpa mual dan muntah kerap dikait-kaitkan dengan kesehatan dan nasib si janin. Padahal, stigma itu adalah mitos belaka atau tak sepenuhnya benar. Meskipun pada beberapa kasus kondisi ini memang dapat membahayakan bagi janin. Akan tetapi, kebenarannya tetap harus dibuktikan lewat pemeriksaan klinis.

Morning sickness terjadi karena peningkatan beberapa hormon, terutama Human Chorionic Gonadotropin (hCG). Peningkatan hormon memang terjadi sangat pesat di awal kehamilan. Hormon hCG sendiri meningkat dua kali lipat setiap minggunya di beberapa minggu pertama kehamilan. Di trimester kedua, kadar hormon-hormon itu masih meningkat, tetapi sudah dalam level yang bisa ditangani tubuh.

Nah, pada beberapa wanita yang tidak mual dan muntah sama sekali bisa menjadi sinyal bahwa kadar hormon di tubuhnya rendah. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko keguguran, walau tidak selalu demikian.

Angka 30 persen sisanya ada lantaran dipengaruhi oleh beberapa faktor. Mereka yang tidak mengalami morning sickness terkait erat dengan kondisi tubuhnya masing-masing. Pasalnya, morning sickness terjadi karena ada “sesuatu” di dalam tubuh si ibu hamil.

Nah, ibu hamil yang tubuhnya bisa menghadapi peningkatan pesat hCG, estrogen, dan beberapa hormon lain di trimester awal kemungkinan besar tidak akan mengalami morning sickness.

Selain itu, kondisi-kondisi di bawah ini juga bisa menyebabkan ibu hamil sama sekali tidak merasakan morning sickness, di antaranya:

  • Kadar hCG dalam tubuh ibu hamil rendah

Seperti telah disebutkan di atas, salah satu tanda awal kehamilan adalah meningkatnya jumlah hormon hCG. Peningkatan hormon ini sekaligus menandakan keberadaan plasenta yang tengah berkembang dalam tubuh.

Peningkatan kadar hCG yang tidak begitu signifikan menjadi salah satu sebab ibu hamil tidak mengalami morning sickness. Meski demikian, tenang saja, situasi tersebut bukan hal buruk sepanjang dokter memberikan sinyal aman..

  • Mampu menoleransi bau-bauan tertentu

Sudah rahasia umum jika ibu hamil mempunyai indera penciuman yang lebih peka, sehingga sensitif pada bau-bauan tertentu. Jika Anda mampu menoleransi bau-bauan tertentu, besar kemungkinan Anda tidak mengalami morning sickness.

  • Kondisi tubuh menerima perubahan dengan baik

Selain beberapa kondisi yang telah disebutkan, tidak mengalami morning sickness bisa juga disebabkan karena tubuh telah mampu menerima kehamilan ini dengan baik.

Ibarat benda asing, kehadiran janin dalam rahim memaksa tubuh Anda untuk beradaptasi. Salah satunya melalui peningkatan hormon-hormon penting guna menyiapkan tubuh selama masa kehamilan. Pada beberapa ibu hamil, tinggi rendahnya kadar hormon tersebut tidak begitu berpengaruh. Tubuhnya bisa beradaptasi dengan baik, sehingga keluhan mual muntah tidak muncul.

  • Masih menyusui

Sebagian besar wanita mengaku bahwa aktivitas menyusui memiliki keuntungan dalam menekan keluhan morning sickness. Meski belum ada bukti penelitian yang sahih, kenyataan di lapangan ini menunjukkan bahwa menyusui berpotensi mengurangi keluhan mual.

  • Mampu mengelola stres dengan tepat

Sama seperti menghadapi penyakit maag, cara terbaik mengurangi mual muntah adalah dengan menghindari stres. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil yang mampu mengelola stres dengan tepat cenderung tidak mengeluhkan morning sickness.

Jadi, selama hamil Anda perlu menata pikiran dengan saksama agar tidak terbebani banyak hal, terutama kecemasan akan sesuatu yang belum terjadi. Apalagi, stres pada masa kehamilan berdampak langsung pada perkembangan janin dalam kandungan.

***

Adapun hubungan antara tidak mengalami morning sickness dengan potensi keguguran sebenarnya masih terus dikaji oleh para ahli. Dr. Ronna L. Chan, seorang peneliti dari The University of North Carolina mengatakan bahwa wanita yang tidak mual sejak awal kehamilan tidak perlu merasa khawatir.

Tidak semua wanita hamil harus mengalami mual karena semua wanita selalu mengalami gejala kehamilan yang berbeda-beda. Meski pada kasus tertentu dibuktikan bahwa tidak mengalami morning sickness bisa berisiko terhadap kemungkinan keguguran, walau tidak selalu terjadi demikian.

Namun, juga dalam penemuannya, Dr. Ronna membuktikan bahwa wanita yang mual parah selama kehamilan justru memiliki risiko tinggi mengalami keguguran. Hal ini menandakan jika kondisi morning sickness dan kehamilan sehat tak dapat sekonyong-konyong disimpulkan dari ada atau tidaknya kondisi morning sickness.

Oleh karenanya, tak perlu ada yang dikhawatirkan secara berlebih terkait kondisi janin Anda kendati Anda tidak mengalami morning sickness seperti ibu hamil pada umumnya. Tetap jaga kondisi kesehatan Anda dan janin, konsumsi makanan yang berprotein tinggi, dan jangan lupa untuk selalu memeriksakan kondisi kehamilan Anda secara rutin agar Anda dapat memastikan kondisi janin Anda senantiasa dalam kondisi aman.

Read More

Penyakit Dengan Gejala Sakit Perut

Terkadang perut kita mengalami rasa sakit yang bergejolak dari waktu ke waktu. Sakit perut adalah istilah yang sering digunakan untuk menyebut kram atau nyeri tumpul di perut (perut). Biasanya berumur pendek dan seringkali tidak serius.

Tetapi tergantung pada gejala yang Anda rasakan, dalam beberapa kasus, Anda mungkin perlu mengunjungi dokter. Karena ada beberapa penyakit yang menyebabkan Anda merasakan sakit perut, baik secara ringan maupun nyeri berlebih. Apa sajakah itu?

Berikut adalah 9 Penyakit dengan gejala sakit perut:

  1. Radang perut atau Gastritis

Cairan yang membantu Anda mencerna makanan mengandung banyak asam. Kadang-kadang cairan pencernaan ini melewati penghalang pelindung di perut Anda dan mengiritasi lapisannya – hal ini disebut gastritis. Ini bisa disebabkan oleh bakteri, penggunaan obat penghilang rasa sakit secara teratur seperti ibuprofen, terlalu banyak alkohol, atau stres. Terkadang Anda dapat mengobatinya dengan mengkonsumsi obat antasid atau obat dengan resep yang sesuai. Tetapi temui dokter Anda karena gastritis dapat menyebabkan perdarahan atau sakit maag.

  1. Bisul perut

Ini adalah luka terbuka pada lapisan perut Anda atau di bagian atas usus kecil Anda. Penyebab paling umum dari bisul perut adalah bakteri, tetapi sekali lagi, penggunaan aspirin, ibuprofen, dan obat penghilang rasa sakit jangka panjang lainnya dapat menyebabkan munculnya penyakit ini. Dan orang-orang yang merokok atau minum minuman beralkohol lebih sering terkena bisul perut. Biasanya Anda akan diberikan obat dengan resep dari dokter yang mengurangi asam lambung atau antibiotik, tergantung pada penyebabnya.

  1. Virus Perut

Sakit perut satu ini juga dikenal sebagai flu perut, penyakit ini adalah infeksi virus yang terdapat di usus Anda. Anda mungkin mengalami diare, kram, atau mual berair, dan Anda mungkin muntah. Anda dapat terinfeksi dari seseorang yang memilikinya atau bisa juga dari makanan yang terkontaminasi. Tidak ada perawatan khusus untuk flu perut, karena penyakit ini biasanya hilang dengan sendirinya. Temui dokter jika Anda mengalami demam, muntah, dehidrasi, atau Anda melihat darah pada muntah atau feses.

  1. Keracunan makanan

Bakteri, virus, dan parasit dalam makanan menyebabkan Anda keracunan makanan. Gejala yang mungkin Anda rasakan adalah diare, mual, dan muntah. Hal ini mudah terjadi ketika Anda mengkonsumsi makanan yang tidak higienis. Biasanya keracunan makanan akan sembuh dengan sendirinya, tetapi temui dokter jika Anda mengalami dehidrasi, melihat darah di muntah atau feses, atau Anda mengalami diare yang parah atau gejala di atas bertahan selama lebih dari 3 hari. Hubungi juga dokter Anda jika Anda memiliki gejala keracunan makanan dan Anda memiliki masalah kesehatan lainnya atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

  1. Sindrom iritasi usus

Penyakit umum ini memengaruhi usus besar Anda (juga disebut usus besar). Penyakit ini dapat menyebabkan kram, kembung, dan lendir di tinja Anda. Anda mungkin merasakan diare dan juga sembelit. Kunjungi dokter untuk membantu Anda mengendalikan gejala tersebut melalui perubahan pola makan atau gaya hidup Anda, atau dengan pengobatan.

  1. Intoleransi terhadap laktosa

Laktosa adalah gula dalam susu dan produk susu lainnya. Jika Anda tidak memiliki cukup enzim yang disebut laktase, tubuh Anda dapat mengalami kesulitan untuk memecahkannya. Hal ini dapat menyebabkan diare, adanya gas dalam perut, kembung, dan sakit perut. Tidak ada obat khusus untuk intoleran terhadap laktosa, tetapi Anda bisa mengatasinya dengan hanya mengkonsumsi sedikit susu dalam diet harian Anda, membeli produk susu bebas laktosa, atau minum pil laktaid yang dijual bebas.

  1. Alergi makanan

Hal ini terjadi ketika tubuh Anda salah mengartikan makanan tertentu karena sesuatu yang berbahaya dan mencoba mempertahankannya. Selain sakit perut, gejalanya juga bisa berupa kesemutan dan bengkak di mulut dan tenggorokan Anda. Dalam kasus yang parah, dapat menyebabkan syok dan bahkan kematian jika tidak segera diobati dengan obat yang disebut epinefrin. Kerang, kacang-kacangan, ikan, telur, kacang, dan susu adalah beberapa pemicu yang lebih mungkin terjadi.

  1. Radang usus buntu

Usus buntu merupakan organ berbentuk kantong kecil dan tipis, berukuran sepanjang 5 hingga 10 cm yang terhubung pada usus besar Anda. Ketika meradang, biasanya usus buntu terinfeksi dan perlu dikeluarkan. Jika usus buntu pecah, hal ini berbahaya dan dapat menyebarkan bakteri. Nyeri yang dirasakan sering dimulai dari pusar dan menyebar ke arah kanan. Segera kunjungi dokter jika Anda berpikir Anda mungkin menderita radang usus buntu.

  1. Serangan Kantung Empedu

Ini terjadi ketika batu empedu – organ berukuran kecil yang membantu pencernaan – menghalangi tabung, atau saluran, yang mengalir di antara hati, pankreas, kantong empedu, dan usus kecil. Gejala yang paling umum adalah sakit perut – jika parah atau berlangsung lebih dari beberapa jam, hubungi dokter Anda. Anda juga sangat mungkin mengalami mual, muntah, demam, urin berwarna teh, dan feses berwarna terang. 

Anda harus mencari perawatan medis segera jika rasa sakitnya sangat parah sehingga Anda tidak bisa duduk diam atau perlu meringkuk untuk merasa nyaman, atau jika Anda memiliki salah satu dari berikut ini:

  • tinja berdarah
  • demam tinggi (lebih dari 101 ° F)
  • muntah darah (disebut hematemesis)
  • mual atau muntah persisten
  • kulit atau mata menguning
  • pembengkakan atau nyeri tekan perut yang parah
  • sulit bernafas

Tidak semua bentuk sakit perut dapat dicegah. Namun, Anda dapat meminimalkan risiko mengembangkan sakit perut dengan konsumsi makanan yang sehat, sering minum air putih, berolahraga secara teratur, dan konsumsi makanan dalam porsi kecil. 

Selain itu, berbaring terlalu cepat setelah makan dapat menyebabkan mulas dan sakit perut. Coba tunggu setidaknya dua jam setelah makan sebelum berbaring atau tidur.

Read More

Waspadai Infeksi Kulit Berikut Ini Pascaoperasi Caesar

Infeksi kulit pasca operasi Caesar bisa saja terjadi. Luka pada kulit ini dibiasanya terjadi karena infeksi bakteri di situs insisi bedah. Tanda-tanda umum yang termasuk ke dalam infeksi kulit setelah operasi adalah demam dengan suhu 38-39,4 derajat Celcius, sensitivitas luka, adanya kemerahan, pembengkakan, dan nyeri perut bagian bawah. Luka ini harus segela diobati, untuk mencegah komplikasi dari infeksi tersebut.

Beberapa wanita mungkin rentan mengalami luka setelah operasi Caesar. Luka tersebut bisa disebabkan karena faktor-faktor berikut ini.

  • Kegemukan
  • Diabetes atau gangguan imun seperti HIV
  • Infeksi cairan amniotic dan membran janin selama persalinan
  • Mendapatkan steroid jangka panjang melalui mulut atau intravena
  • Perawatan prenatal yang buruk
  • Pernah menjalani operasi Caesar sebelumnya
  • Kurangnya antibiotik atau perawatan antimikroba
  • Persalinan dengan durasi yang lama
  • Kehilangan darah dalam jumlah banyak selama persalinan atau operasi

Berdasarkan penelitian yang dilakukan tahun 2012 oleh South African Medical Journal, wanita yang menerima jahitan nilon setelah persalinan Caesar juga lebih mungkin mengalami infeksi kulit. Jahitan staples juga dapat membuat infeksi. Kebanyakan orang akan memilih jahitan yang terbuat dari poliglikolida (PGA), karena jahitannya dapat diserat dan terurai.

Jika Anda menjalani operasi Caesar, sangat penting untuk memantau luka dan mengikuti petunjuk dari dokter setelah operasi. Jika Anda tidak dapat melihat lukanya, maka minta bantuan orang terdekat untuk terus memantaunya setiap 2 hari sekali untuk memperhatikan tanda infeksi kulit. Melahirkan dengan operasi Caesar juga dapat menempatkan Anda pada risiko terhadap masalah lain, seperti pembekuan darah.

Hubungi dokter untuk berkonsultasi dan mencari perawatan medis jika Anda mengalami gejala-gejala seperti ini:

  • Sakit perut yang berlebihan
  • Kemerahan di situs insisi
  • Pembengkakan di situs insisi
  • Keluarnya nanah dari situs insisi
  • Rasa sakit di sayatan yang memburuk
  • Demam lebih dari 38 derajat Celsius
  • Buang air kecil terasa sakit
  • Kotoran dari vagina berbau tidak sedap
  • Pendarahan
  • Nyeri atau bengkak pada kaki

Beberapa infeksi luka pascaoperasi Caesar akan ditangani sebelum pasien keluar dari rumah sakit. Namun, infeksi kulit tidak muncul dengan cepat. Faktanya, banyak infeksi pascaoperasi yang muncul dalam beberapa minggu setelah melahirkan. Sebagian besar infeksi ini baru muncul pada diagnosis lanjutan dari dokter:

  • Adanya luka
  • Tidak adanya kemajuan penyembuhan
  • Adanya gejala infeksi umum
  • Adanya bakteri tertentu

Dokter mungkin harus membuka luka untuk mendiagnosis dan memberikan Anda perawatan yang tepat. Jika terdapat nanah, maka dokter akan menggunakan jarum untuk mengeluarkan nanah tersebut dari luka. Cairan itu dapat dikirim ke laboratorium untuk mengidentifikasi masalah.

Infeksi kulit pascaoperasi Caesar akan dikategorikan sebagai luka selulitis atau abses luka (abdominal). Infeksi ini juga dapat menyebar dan menyebabkan masalah dengan organ, kulit, darah, serta jaringan lokal di sekitarnya.

  1. Selulitis

Luka ini biasanya disebabkan oleh bakteri bernama staphylococcal atau streptokokus. Keduanya merupakan bagian dari bakteri normal yang ditemukan pada kulit. Dengan adanya selulitis, jaringan yang terinfeksi di bawah kulit akan meradang. Kemerahan dan bengkak tersebut akan menyebar dengan cepat dari sayatan bedah ke luar kulit yang ada di dekatnya. Kulit yang terinfeksi ini biasanya hangat dan lembut saat disentuh. Secara umum, nanah tidak akan muncul dari dalam sayatan.

  • Abdominal

Kondisi abses luka ini disebabkan oleh bakteri yang sama dengan selulitis dan bakteri lainnya. Infeksi di tempat bekas pembedahan akan kemerahan, terasa lembut, dan bengkak di sepanjang tepi sayatan. Nanah akan keluar dari luka tersebut. abses dapat terbentuk pada insisi uterus, jaringan parut, ovarium, dan jaringan lain atau organ di dekat infeksi itu terjadi.

Bakteri yang menyebabkan luka abses juga dapat menimbulkan endometritis yaitu iritasi operasi Caesar dari lapisan uterus yang akan menyebabkan:

  • Rasa sakit
  • Pendarahan yang abnormal
  • Pembengkakan
  • Demam
  • Rasa tidak nyaman
Read More