parenting tagged posts

Pilihan Mainan Anak Sesuai Usianya

Banyak orang mengabaikan pertimbangan label umur pada mainan anak. Anak yang sudah bisa memilih sendiri barang yang diidamkan, biasanya terpengaruh pada kemasan cantik atau kesamaan dengan tokoh yang sering dia lihat di televisi atau tayangan internet. Sementara, orang tua biasa terpengaruh pada hal-hal lain, termasuk potongan harga. Padahal, memberikan anak mainan yang tidak sesuai umurnya berakibat buruk. Mulai kesulitan bermain, cedera, bahkan kematian.

Ikatan Dokter Anak Indonesia menyatakan fase perkembangan penting dalam usia anak perlu dijadikan pertimbangan saat memilih mainan anak. Rangkaian fase tersebut adalah:

Usia 0-6 bulan

Di fase ini, fungsi pendengaran dan penglihatan bayi mulai berkembang. Bayi mulai suka mengikuti gerak benda, berpaling saat mendengar suara, menggenggam serta meraih mainan. Mainan yang cocok adalah yang berwarna mencolok dan berbunyi untuk merangsang perkembangan mata dan telingannya.

Usia 7-12 bulan

Kemampuan motor kasar bayi mulai berkembang. Bayi senang berguling, duduk, merangkak, dan berdiri. Dia juga memahami panggilan namanya. Mainan yang dapat diberikan di kelompok usia ini adalah boneka, mobil-mobilan, bola, dan kubus.

Usia 1-2 tahun

Di usia ini, anak biasanya sudah aktif berjalan, bahkan belajar naik tangga. Bayi juga mulai mengucapkan kata dan bermain dengan anak lain. Di fase ini, orang tua dapat memberika buku cerita bergambar, musik dan lagu, alat gambar seperti krayon dan pensil warna. Permainan pura-pura seperti boneka bayi dan stroller, mobil-mobilan, telepon-teleponan juga baik untuk perkembangan kemampuannya.

Usia 2 tahun

Di umur ini, kemampuan bahasa anak sudah berkembang dengan merangkai dua kata dan menyampaikan keinginan sederhana. Secara fisik, anak jadi lebih aktif, dengan senang melompat, memanjat, dan bergelantungan. Perkembangan kemampuan motorik halusnya dapat ditunjang dengan permainan keterampilan seperti puzzle, Lego, dan berbagai permainan pura-pura yang lebih kompleks.

Usia 3-6 tahun

 Di fase ini, otak anak dipenuhi pertanyaan. Mereka mulai bermain dengan anak lain dan memahami menang-kalah. Permainan puzzle, kubus, Lego, dapat meninkatkan kemampuan keterampilannya. Setelah mengetahui angka, anak juga bisa diajarkan bermain ular tangga, halma, dan kartu untuk memperkenalkan konsep aturan dalam permainan. Permainan luar ruangan, seperti sepeda, sepak bola baik untuk merangsang pertumbuhan fisiknya.

Usia sekolah Permainan yang cocok untuk anak usia sekolah adalah yang meningkatkan kemampuan peran, ketangkasan, dan kreativitas. Di fase ini, anak bisa diperkenalkan pada permainan yang lebih kompleks, seperti monopoli, scrabble, dan catur. Sepeda roda dua dan skateboard bisa menjadi alternatif aktivitas luar ruangan mereka disamping permainan tradisional seperti layangan, ular naga, dan lompat tali.  Perlu diingat, orang tua perlu membatasi interaksi anak dengan gadget di kelompok usia apa pun.

Read More

Selain Wanita, Pria juga Mengalami Gejala-gejala Kehamilan Ini

Mungkin banyak orang berpikir bahwa hanya wanita saja yang merasakan gejala kehamilan, seperti ngidam, mual, atau muntah. Namun tahukah Anda bahwa para suami atau pasangan juga bisa merasakan gejala kehamilan serupa. Gejala kehamilan tersebut disebut sebagai gejala kehamilan simpatik atau dikenal dengan sindrom couvade.

Sindrom couvade merupakan kondisi saat suami ikut mengalami gejala-gejala kehamilan. Menurut penelitian tahun 2005, sekitar 90% pria yang istrinya sedang hamil mengalami paling tidak satu gejala-gejala pada awal kehamilan. Lalu, apa saja gejala kehamilan pada pasangangan yang sering dirasakan?

Kecemasan

Entah karena alasan apa, pasangan Anda mungkin mendadak sering merasa gugup dan cemas. Ia mulai mencemaskan banyak hal yang mungkin menurut Anda tidak perlu dicemaskan. Misalnya, tiba-tiba takut akan gelap atau kebisingan. Namun sejauh ini belum ada penelitian yang mampu mengungkapkan fenomena kecemasan tersebut.

Akan tetapi menurut penuturan dari beberapa orang yang telah memiliki anak. Kecemasan itu dikarenakan ketakutan suami akan hal-hal yang mungkin terjadi pada ibu maupun bayi yang ada dalam kandungan. Bisa juga karena kecemasan selama persalinan berlangsung. Sehingga kemudian suami bersikap ekstra hati-hati dan mencemaskan ini-itu.

Nafsu Makan Meningkat

Gejala kehamilan pada pasangan yang umumnya dirasakan adalah perubahan nafsu makan. Ternyata, peningkatan nafsu makan tidak hanya terjadi pada ibu hamil. Dalam beberapa kasus, justru pasangan atau suami menjadi gila makan padahal sebelumnya tidak demikian. Di sisi lain, justru Anda lebih stabil dalam mengendalikan nafsu makan.

Emosi Tidak Stabil

Ketidakstabilan mood atau emosi adalah salah gejala kehamilan pada pasangan. Selama masa kehamilan, Anda mungkin akan menemukan suami mudah sekali berubah mood. Suatu waktu Ia tampak senang, tapi di waktu yang lain Ia bisa terlihat sedih ataupun marah tiba-tiba. Jika Anda menemukan gejala ini pada pasangan, segeralah tenangkan mereka.

Ketidakstabilan emosi itu bisa dipicu oleh perasaan yang bercampur aduk. Senang lantaran akan memiliki bayi tapi juga takut akan kerepotan nantinya. Hal ini cukup wajar terjadi, terlebih bagi pasangan yang baru saja menikah dan memiliki anak pertama.

Menyakiti Dirinya Sendiri

Pernahkah Anda menemukan suami mencubit atau memukul dirinya sendiri saat Anda mengalami kontraksi atau kesakitan? Jika iya, itu merupakan gejala kehamilan yang juga terjadi pada pasangan. Hal tersebut terjadi lantaran suami juga ingin berbagi rasa sakit selama kehamilan Anda.

Morning Sickness Meningkat Dua Kali Lipat

Apabila Anda beranggapan hanya ibu hamil saja yang mengalami morning sickness, nyatanya tidak demikian. Saat masa kehamilan, suami juga bisa mengalami morning sickness yang sama atau bahkan dua kali lebih parah. Ia bisa merasa mual, lelah, lemas dan bahkan muntah sepanjang hari. Fenomena tersebut bukanlah suatu hal yang aneh.

Peningkatan Berat Badan

Menurut sebuah penelitian, selama masa kehamilan istrinya, rata-rata suami mengalami peningkatan berat badan hingga 14 kilogram. Gejala ini terjadi lantaran para calon ayah dilanda kecemasan akan perubahan hidup yang akan dialaminya. Rasa cemas tersebut kemudian mendorong mereka mencari kenyamanan, antara lain dengan makan lebih banyak sehingga berat badan ikut bertambah. Itulah beberapa gejala kehamilan yang dapat melanda pasangan laki-laki. Antisipasi hal-hal tersebut dengan mempersiapkan mental dan selalu menjaga pola hidup sehat sepanjang hari, agar Anda dapat membantu istri menjalani kehamilan dengan lancar, tanpa menambah kerepotannya.

Read More