Category Penyakit

Apa Saja Penyebab Telinga Berdengung?

Telinga berdengung, atau istilah medisnya disebut sebagai tinnitus, merupakan gangguan yang terjadi secara tiba-tiba, namun hanya dalam waktu yang singkat. Meskipun demikian, jika gangguan tersebut dibiarkan begitu saja, maka bisa menimbulkan gejala seperti depresi atau stres. Selain itu, penyebab telinga berdengung juga beragam, salah satunya termasuk penggunaan obat tertentu.

Kategori Tinnitus

Tinnitus terdiri dari dua kategori, antara lain subjektif dan objektif. Tinnitus subjektif hanya terjadi pada diri Anda terhadap dengungan di telinga. Tinnitus objektif terjadi tidak hanya pada diri Anda, namun orang lain juga merasakan hal yang sama terhadap dengungan tersebut.

Penyebab Telinga Berdengung

Bukan hanya dengungan yang menimbulkan gangguan di bagian telinga, Anda mungkin juga akan mendengarkan suara-suara aneh seperti suara yang mendesis, siulan, atau gemuruh. Jika Anda mengalami kondisi seperti ini, maka penyebab telinga berdengung bisa berupa:

  1. Faktor usia

Semakin tua usia manusia, semakin tinggi risiko yang terjadi pada telinga mereka, termasuk telinga berdengung. Telinga berdengung sering terjadi ketika manusia setidaknya berada di usia 60 tahun.

  • Suara keras

Suara keras juga merupakan penyebab lain telinga seseorang berdengung. Jika hal tersebut terus terjadi, maka tidak hanya terus berdengung di bagian telinga, namun juga dapat menimbulkan gangguan pendengaran sehingga penderita mengalami kerusakan di telinga baik untuk sementara maupun secara permanen.

  • Kotoran di telinga

Telinga berdengung juga bisa disebabkan karena kotoran yang menumpuk di telinga. Untuk mengatasi masalah seperti ini, penderita sebaiknya bersihkan telinga secara rutin, namun tidak dianjurkan untuk menggunakan pembersih telinga cotton bud, karena bisa membuat kotoran semakin masuk ke dalam.

  • Infeksi telinga

Dengungan di bagian telinga juga bisa terjadi ketika Anda flu. Dengungan tersebut terjadi karena adanya infeksi di bagian telinga. Kondisi tersebut terjadi dalam beberapa hari. Namun, jika terjadi lebih dari satu minggu, Anda sebaiknya konsultasikan masalah tersebut dengan dokter.

  • Perubahan pada tulang telinga

Tidak seperti tulang lain di dalam tubuh, tulang telinga bagian tengah bisa berubah sehingga menjadi keras dan hal tersebut bisa membuat telinga seseorang berdengung. Perubahan pada tulang telinga juga dipengaruhi oleh faktor genetik.

  • Cedera di bagian kepala

Cedera di bagian kepala tidak hanya menimbulkan trauma, namun juga dapat menyebabkan telinga berdengung, namun hanya satu sisi saja.

  • Penggunaan obat

Obat-obat yang dapat menyebabkan telinga seseorang berdengung adalah obat aspirin, obat diuretik, obat antidepresan, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), obat kanker, dan sebagian obat antibiotik. Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk menggunakan obat lain jika Anda mengalami penyakit tertentu, namun tidak ingin membuat telinga berdengung.

  • Gangguan TMJ

Gangguan TMJ (TMJ disorders) merupakan gangguan yang terjadi pada sendi dan otot temporomandibular karena adanya masalah pada sendi yang terletak di depan telinga sehingga dapat menimbulkan telinga berdengung.

  • Neuroma akustik

Neuroma akustik dapat menyebabkan telinga berdengung karena adanya tumor jinak pada bagian saraf kranial. Neuroma akustik terjadi pada satu sisi telinga.

  1. Kejang pada otot telinga

Kejang pada otot telinga bagian dalam juga dapat menyebabkan telinga berdengung. Tidak hanya itu, hal tersebut juga dapat memicu gangguan pendengaran.

Cara Mengobati Telinga Berdengung

Jika telinga Anda berdengung, Anda sebaiknya minta dokter untuk melakukan pengobatan. Pengobatan juga bergantung pada seberapa parah kondisi telinga yang dialami pasien. Berikut adalah beberapa pengobatan yang bisa dilakukan:

  • Terapi obat.
  • Alat bantu dengar.
  • Implan koklea.

Kesimpulan

Penyebab telinga berdengung beragam dan perlu segera diobati. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi telinga berdengung. Untuk informasi tentang telinga berdengung, Anda dapat tanyakan persoalan tersebut ke dokter.

Read More

Kenali Betul Penyebab dan Pertolongan Pertama Obati Nafas Pendek

Pernahkah Anda merasa kesulitan bernapas, sesak napas, atau nafas pendek? Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal dengan dyspnea yang ditandai dengan gejala dada yang terasa menyempit. Beberapa orang mengalami kesulitan untuk bernapas secara leluasa, rasa nyeri di sekitar dada, hingga terasa seperti tercekik.

Faktor penyebab nafas pendek yang perlu Anda tahu

Nafas pendek sebenarnya umum terjadi, seperti ketika Anda baru selesai melakukan olahraga berat atau intens. Lebih jelasnya mengenai penyebab nafas pendek, dapat Anda simak di bawah ini:

  1. Asma: sesak nafas atau nafas pendek merupakan salah satu gejala yang paling umum dikeluhkan oleh penderita asma.
  1. Sarkoidosis: gangguan kesehatan ini terbilang cukup langka. Ketika seseorang mengalami sarkoidosis, tubuhnya akan mengalami peradangan di beberapa area tubuh secara bersamaan, seperti di area kulit, mata, paru-paru, bahkan limpa.
  1. Alergi:faktor alergi, seperti menghirup debu atau terkena udara dingin juga dapat menyebabkan seseorang mengalami nafas pendek. Kondisi ini dapat menjadi tanda, bahwa reaksi alergi yang terjadi cukup berbahaya atau dikenal dengan anafilaksis yang perlu diobati secepatnya.
  1. Penyakit paru-paru: berbagai penyakit paru menyebabkan seseorang mengalami nafas pendek. Penyakit paru-paru yang berisiko menyebabkan kesulitan bernapas, yaitu edema paru, embolisme paru, pneumonia, hingga tuberkulosis (TBC).
  1. COVID-19: selain demam dan batuk, nafas pendek merupakan salah satu gejala yang dikeluhkan oleh penderita COVID-19. Kondisi penderita COVID-19 dapat berubah menjadi lebih parah dalam waktu yang cukup singkat.
  1. Penyakit jantung: nafas pendek juga berkaitan dengan penyakit jantung, seperti kelainan irama jantung (aritmia), gagal jantung kongestif, serangan jantung, dan gangguan lainnya pada organ jantung.

Bagaimana memberikan pertolongan pertama untuk mengobati nafas pendek?

Nafas pendek perlu diatasi berdasarkan penyebab kondisi itu sendiri. Namun, Anda tetap dapat melakukan beberapa langkah mudah sebagai pertolongan pertama untuk mengobati nafas pendek, seperti di bawah ini:

  1. Bernapas menggunakan diafragma

Bagaimana bernapas menggunakan diafragma ini dilakukan? Teknik pernapasan ini perlu dilakukan dalam posisi duduk. Selanjutnya, Anda perlu memastikan bahwa bahu, kepala, dan leher berada dalam posisi serileks mungkin. Lalu, letakkan telapak tangan di atas perut dan cobalah untuk bernapas dengan menggunakan hidung. Sambil melakukan langkah ini, rasakan gerakan perut ketika bernapas agar fokus tetap terjaga.

Napas perlu dikeluarkan dengan cara dihembuskan, seperti bersiul. Lakukan teknik pernapasan diafragma ini sekitar 5 menit.

  1. Duduk dengan posisi membungkuk

Cobalah untuk duduk dengan mencondongkan badan ke arah depan dan secara bersamaan bertumpu pada siku. Jika Anda telah siap dalam posisi ini, maka cobalah untuk bernapas seperti biasa. Jika di depan Anda terdapat meja, cobalah untuk membaringkan kepala ke atas meja dengan bertumpu pada lengan maupun bantal.

  1. Pursedlip breathing

Cara sederhana lainnya untuk mengatasi nafas pendek, yaitu dengan melemaskan leher dan pundak, lalu bernapas melalui hidung, dan mengeluarkan nafas secara perlahan melalui mulut dengan posisi bibir seperti bersiul.

Teknik pursedlip breathing akan membantu Anda dalam mengeluarkan udara yang tersimpan di paru-paru. Teknik ini dapat dilakukan secara bersamaan ketika sedang melakukan aktivitas berat, seperti menaiki tangga, mengangkat barang muatan berat, atau membungkuk.

Read More

Insufisiensi Vena

Insufisiensi vena merupakan kondisi ketika pembuluh darah balik atau vena mengalami kesulitan dalam mengalirkan darah dari bagian kaki ke jantung. Insufisiensi vena menyebabkan darah tidak kembali ke jantung dan penumpukan pembuluh darah pada bagian kaki.

Gejala

Seseorang yang mengalami insufisiensi vena bisa mengalami gejala sebagai berikut:

  • Gatal.
  • Kesemutan.
  • Kram.
  • Kesakitan.
  • Nyeri, namun berkurang ketika kaki diangkat.
  • Kaki terasa bengkak.
  • Iritasi kulit.
  • Perubahan warna kulit.
  • Kaki mengeluarkan luka.
  • Adanya varises pada permukaan kulit.
  • Kulit di bagian pergelangan kaki dan tungkai bawah menebal dan mengeras.

Penyebab

Insufisiensi vena biasanya disebabkan oleh pembekuan darah pada bagian vena dalam tungkai bawah dimana bagian tersebut merusak katup pada vena. Hal tersebut dapat menyebabkan darah dari kaki sulit kembali ke jantung. Jika seseorang mengalami insufisiensi vena dan duduk dalam waktu yang lama, maka akan memperburuk keadaan dengan memperbesar tekanan pada bagian vena dan memperlemah katupnya.

Faktor Risiko

Insufisiensi vena lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Selain itu, seseorang bisa memiliki risiko lebih besar terhadap insufisiensi vena jika mereka memiliki kondisi sebagai berikut:

  • Berusia lebih dari 50 tahun.
  • Memiliki berat badan yang berlebihan.
  • Sedang mengandung atau telah melahirkan beberapa kali.
  • Memiliki kebiasaan merokok.
  • Memiliki riwayat penyakit pembekuan darah.
  • Memiliki keluarga yang pernah mengalami insufisiensi vena.

Diagnosis

Jika Anda terkena insufisiensi vena, Anda sebaiknya periksa kaki Anda ke dokter. Dokter dapat membantu Anda dengan melakukan diagnosis terhadap kondisi yang Anda alami. Dokter akan memeriksa kondisi Anda terlebih dahulu. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan yang meliputi ultrasonografi vaskular atau duplex sonografi vaskuler. Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan menempatkan perangkat kecil pada kulit yang terletak di atas vena. Alat tersebut menggunakan gelombang suara untuk melihat kondisi pembuluh darah, serta memeriksa kecepatan dan arah aliran darah pasien.

Selain menggunakan ultrasonografi vaskular atau duplex sonografi vaskuler, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan radiologi dengan sinar X atau pemindaian khusus. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah pasien mengalami penyakit lain sehingga dapat menyebabkan kaki mereka bengkak.

Pengobatan

Ada berbagai pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi insufisiensi vena. Salah satu pengobatan tersebut adalah menggunakan stoking kompresi dimana kegunaannya dapat menjaga aliran darah pada kaki. Hal tersebut juga dapat mengurangi risiko pembengkakan pada kaki dan pembekuan darah.

Selain stoking kompresi, prosedur medis lain dapat dilakukan dokter yang meliputi:

  • Sklerot

Sklerot merupakan jenis pengobatan yang meliputi air garam yang disuntikkan ke pembuluh darah pasien untuk mengurangi pengerasan pada vena.

  • Phlebectomy

Phlebectomy merupakan jenis pengobatan yang meliputi pembedahan untuk menghilangkan varises yang berada pada bagian bawah kaki.

  • Laser

Laser juga diperlukan untuk mengurangi risiko terhadap pembuluh darah.

  • Pengangkatan varises

Pengangkatan varises bisa dilakukan pada vena besar di kaki pasien.

Pencegahan

Berikut adalah cara-cara yang sebaiknya diterapkan untuk mencegah insufisiensi vena:

  • Berolahraga secara teratur.
  • Menjaga berat badan agar tetap ideal.
  • Mengurangi waktu untuk duduk.
  • Hindari kebiasaan merokok.

Berkonsultasi Dengan Dokter

Jika Anda ingin bertemu dengan dokter, Anda sebaiknya persiapkan diri dengan beberapa hal di bawah:

  • Daftar pertanyaan yang ingin diajukan ke dokter.
  • Daftar riwayat medis, baik dari Anda sendiri maupun keluarga.
  • Daftar gejala yang Anda alami akibat insufisiensi vena.

Ketika Anda bertemu dengan dokter, dokter juga akan menanyakan pertanyaan terkait dengan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala akibat insufisiensi vena terjadi?
  • Apa saja gejala yang Anda alami akibat insufisiensi vena?
  • Apakah Anda memiliki penyakit tertentu?

Kesimpulan

Insufisiensi vena merupakan gangguan pada tubuh yang perlu diwaspadai, karena dapat memicu berbagai gejala. Akan lebih rentan terhadap kondisi tersebut jika Anda memiliki faktor risiko seperti berusia lebih dari 50 tahun. Oleh karena itu, untuk mengatasi kondisi seperti ini, Anda dianjurkan untuk melakukan cara-cara yang disebutkan di atas.

Read More

Gejala Gangguan Proses Mendengar

Tanpa disadari, di antara pembaca bisa saja sedang mengalami gangguan proses mendengar. Kondisi tersebut merupakan suatu masalah ketika otak tidak bisa memproses suara yang diterima dengan baik. Berkaca dari beberapa kasus, adapun yang sering dialami adalah kesalahan dalam mendengar kata atau kalimat.

Kasus yang dimaksud adalah ketika seseorang salah mendengar, seperti “penguasa” padahal yang sebetulnya diucapkan lawan bicaranya adalah “pengusaha”. Tentu kesalahan dalam mendengar sejenis itu banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Hanya saja, karena dianggap sepele, akhir tidak banyak orang yang menyadari dirinya tengah mengalami gangguan proses mendengar. Berkenaan dengan hal tersebut, sebetulnya di antara pembaca bisa saja mengetahuinya apabila tahu gejala-gejala dari gangguan pada telinga tersebut.

Adapun tanda-tanda dari gangguan proses mendengar adalah situasi di mana pengidap mengalami kesulitan mendengar dari orang lain sebagaimana yang sudah dicontohkan di atas. Kesulitan ini yang dimaksud adalah penderita tidak mendengar secara jelas. Selain itu, malah pada kondisi tertentu bukan tidak mendengar dengan jelas, melainkan salah mendengar kata yang diucapkan lawan bicara.

Jika sudah mengalami tanda tersebut, gejala berikutnya yang terjadi adalah sering meminta lawan bicara anda mengulangi kata-katanya. Hal ini memang masih berkaitan dengan gejala pertama yang sudah dijelaskan tadi. Memang, sangat wajar ketika orang tidak mendengar dengan jelas lalu meminta lawan bicaranya untuk mengulanginya lagi, tapi dalam segi kesehatan ini bisa saja tanda anda mengalami gangguan pendengaran.

Gejala-gejala lainnya dari gangguan proses mendengar adalah kondisi di mana pengidap mengalami kesulitan berkomunikasi apabila lawan bicaranya tidak ada dihadapannya. Tanda ini merujuk dari contoh kasus, seperti di kantor atau di kelas ketika seseorang yang ada di belakang menegur atau berbicara sesuatu.

Tanda berikutnya dari gangguan yang menyerang telinga tersebut adalah ketika penderita tanpa sadar mendengarkan suara dengan tingkat volume lebih tinggi daripada orang pada umumnya. Kondisi ini tanpa disadari terjadi ketika mendengarkan lagu atau saat menonton televisi.

Mungkin, awalnya penderita akan menganggap volume suara tersebut normal-normal saja. Namun, apabila dari kebiasan tersebut anda ditegur oleh keluarga atau teman, maka anda patut curiga kalau sedang mengalami gangguan proses mendengar.

Dari penjelasan di atas, kita dapat mengetahui beberapa gejala yang bakal dialami seseorang apabila mengalami gangguan proses mendengar. Memang kerap kali kondisi itu dianggap sepele, tetapi tetap saja tidak bisa dianggap remeh karena bisa saja berujung fatal.

Meski demikian, sebetulnya kita bisa melakukan pencegahan agar terhindar dari gangguan pada telinga tersebut. Langkah yang perlu diperhatikan adalah dengan rutin menjaga kebersihan pada telinga. Membersihkan kotoran pada telinga ini bertujuan untuk menghindari infeksi.

Upaya pencegahan berikutnya adalah dengan menghindari cedera atau benturan pada bagian telinga. Hal ini karena benturan bisa saja membikin gendang telinga menjadi bermasalah dan kemudian dapat mengakibatkan terjadinya gangguan proses mendengar.

Selanjutnya, langkah yang bisa diambil agar tidak mengalami gangguan proses mendengar adalah dengan tidak mendengarkan sesuatu dengan volume keras. Ini perlu diperhatikan terutama bagi mereka yang suka mendengarkan musik dengan headset, karena biasanya tanpa sadar suka menaikan volume suara.

Itulah hal-hal yang bisa dilakukan sebagai upaya pencegahan agar kita terhindar dari gangguan proses mendengar. Sekali lagi, karena pada beberapa kasus gangguan tersebut bisa berdampak buruk, alangkah baiknya kita mencegahnya daripada menunggu harus terjadi lebih dahulu.

Kalaupun di antara pembaca ada yang tengah mengalami gangguan proses mendengar, alangkah baiknya berkonsultasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut. Sekali lagi, jangan pernah meremehkan gangguan tersebut.

Read More

Kenali Siapa Saja yang Berisiko Mengalami Dermatitis Statis

Dermatitis stasis biasa disebut juga eksim vena merupakan penyakit yang jarang dikenal masyarakat. Penyakit ini merupakan salah satu jenis dari 7 jenis dermatitis lainnya. Gejala awal dermatitis stasis ditandai dengan iritasi kulit, kemerahan, bengkak, merasa berat saat berjalan pada kaki bagian bawah terutama setelah beraktivitas seharian.

Kondisi dermatitis stasis disebabkan karena kelainan katup pembuluh darah vena kaki sehingga aliran darah menumpuk dan menekan pembuluh darah sehingga menimbulkan pembengkakan. Singkatnya penyakit ini dipicu oleh buruknya sistem aliran darah di kaki. Berikut kondisi-kondisi yang memiliki faktor risiko menderita dermatitis stasis.

  • Perempuan

Perempuan lebih berisiko daripada laki-laki karena kondisi kehamilan yang dialami perempuan memengaruhi sistem vena pada tungkai kaki. Sebuah kasus di Inggris menunjukkan penderita penyakit ini terjadi pada 21% laki-laki dan 25% perempuan pada sampel penduduk lansia.

  • Usia lebih dari 50 tahun

Seiring meningkatnya umur, maka kemungkinan terjangkit dermatitis stasis juga semakin tinggi. Di Amerika, penyakit ini biasa terjadi pada 15-20 juta penduduk lansia usia 50 tahun ke atas. Penduduk usia muda juga mungkin bisa terjangkit apabila dalam kondisi tertentu seperti trauma, memiliki riwayat pembekuan darah di vena, infeksi yang berulang, atau keadaan setelah operasi. 

  • Overweight atau obesitas

Berat badan yang melebihi normal membuat pembuluh darah berada dalam tekanan lebih besar melebih kemampuan normalnya. Sebuah studi menyebutkan seseorang dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) melebihi normal berisiko mengalami penyakit ini. Jika penderita dermatitis stasis tidak mampu menurunkan berat badan, maka pilihan lain yang harus dilakukan yaitu bed rest.

  • Penderita hipertensi

Biasanya penderita dermatitis stasis memiliki kondisi hipertensi vena kronis. Kondisi ini terjadi karena penderita mengalami tekanan darah tinggi di bagian pembuluh darah kaki. Hal tersebut menyebabkan pembuluh darah bocor ke bawah karena efek gravitasi. Apabila pengobatan hipertensi vena kronis berhasil, maka kondisi dermatitis stasis juga akan membaik seiring waktu.

  • Penderita penyakit ginjal

Sebuah studi menyebutkan bahwa sebanyak 2% penderita gagal ginjal mengalami dermatitis. Pengobatan dialisis pada gagal ginjal menyebabkan rasa gatal tingkat tinggi yang merupakan salah satu gejala dermatitis stasis. Penelitian yang ditemukan mengenai hubungan penyakit ginjal dan dermatitis masih sedikit dan diperlukan penelitian lanjutan.

  • Mengalami banyak kelahiran

Telah disebutkan sebelumnya bahwa hipertensi vena kronis berhubungan erat dengan dermatitis stasis. Sebanyak lebih dari 80% perempuan hamil mengalami hipertensi vena kronis. Saat hamil, perubahan sistem aliran darah memang terjadi secara signifikan. Semakin sering kehamilam terjadi maka kemungkinan mengalami hipertensi vena kronis juga semakin besar.  

  • Duduk atau berdiri dalam waktu yang lama

Gejala pembengkakan kaki akan timbul ringan di pagi hari, namun semakin parah setelah seharian bekerja dalam keadaan berdiri. Tak hanya itu, penderita juga akan merasa berat dan kesakitan setelah berdiri atau duduk berjam-jam. Anda perlu mengambil waktu istirahat dengan cara berjalan ringan selama 10 menit setiap jamnya. Latihan fisik juga bisa jadi solusi lainnya, tapi terlebih dahulu konsultasikan ke dokter untuk jenis dan durasinya.

  • Memiliki kondisi lain pemicu dermatitis stasis

Kondisi-kondisi lainnya yang memicu terjadinya penyakit ini diantaranya adalah Deep Vein Thrombosis (DVT) atau penggumpalan darah pada kaki, gangguan jantung, serta gumpalan darah pada kaki. Faktor risiko di atas tidak semuanya bisa menjadi penyebab dan pemicu terjadinya dermatitis stasis. Ada beberapa penderita yang hanya memiliki sedikit faktor risiko tersebut, namun ada juga yang lebih dari itu. Ada baiknya jika Anda telah menemukan tanda dan gejala awal, segera konsultasikan kepada dokter.

Read More

Prediksi Pandemi Corona di Indonesia Berakhir Menurut Ahli

Masih belum jelas dan tidak pastinya kapan pandemi virus corona ini akan berakhir di Indonesia dan dunia. Meski begitu, sudah banyak prediksi pandemi corona berakhir dari para ilmuwan.

Kita dan semua orang pasti mempertanyakan hal yang sama terkait prediksi pandemi corona ini berakhir. Sebab, ada banyak sekali sisi dan aspek kehidupan yang terganggu akibat adanya virus ini. Sebut saja kesehatan, ekonomi, hingga angka kemiskinan yang terus meningkat.

Nah, untuk menjawab pertanyaan terkait berakhirnya pandemi ini, mari kita lihat beberapa prediksi pandemi corona dari para pakar atau ahli di institusi nasional Indonesia.

Prediksi Pandemi Corona di Indonesia Berakhir Menurut Pakar

Berikut beberapa prediksi dari beberapa ahli terkait kapan pandemi corona akan berakhir di Indonesia menggunakan model perhitungan yang berbeda-beda.

  • Prediksi Menurut Ahli UNS

Menurut salah seorang ilmuwan Matematika dari Universitas Sebelas Maret, Sutanto Sastraredja, mempredikasi puncak covid-19 di Indonesia akan terjadi pertengahan bulan Mei 2020. Prediksi ini didasarkan pada model perhitungan SIQR. Tentu saja prediksi ini bergantung pada bagaimana peraturan dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia terkait penanganan dan pencegahan covid-19.

  • Prediksi BIN

Badan Intelijen Nasional (BIN) pada 13 Maret 2020 lalu memprediksi bahwa pandemi virus corona di Indonesia akan memuncak pada 2-22 Mei 2020. Namun, hingga sekarang sudah pertengahan September, jumlah kasus positif di Indonesia masih terus bertambah secara signifikan.

  • Guru Besar UI

Menurut Hasbullah Thabrany yang merupakan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat niversitas Indonesia memprediksi bahwa pandemi akan berakhir pada Mei 2020. Kemungkinan ini hanya bisa terjadi jika masyarakat patuh dan disiplin menjalankan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak, hingga tidak melakukan kontak tatap muka.

  • Menurut Ahli UGM

Menurut ahli statiskika dan alumni dari FMIPA Universitas Gadjah Mada memprediksi bahwa pandemi corona di Indonesia ini akan berakhir pada 29 Mei 2020. Hal ini berdasarkan pada model perhitungan probabilistik yang didasarkan pada data nyata.

Namun lagi-lagi, prediksi ini menyebutkan bahwa Indonesia bisa terbebas sesuai prediksi hanya jika ada intervensi ketat dari pemerintah, seperti adanya larangan mudik, memberlakukan partial lockdown dan upaya lainnya.

  • Prediksi Menurut Ahli ITB

Ahli dari Pusat Permodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung juga turut memprediksi mengenai kapan pandemi corona di Indonesia akan berakhir. ITB memprediksi bahwa corona akan berakhir ada akhir Mei atau awal Juni 2020. Dengan asumsi puncak covid-19 terjadi pada minggu kedua dan ketiga bulan April 2020 lalu.

  • Menurut Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Dony Monardo juga turut memberikan prediksi pandemi corona ini akan berakhir di Indonesia. Menurut dia, Indonesia diharapkan bisa hidup normal kembali pada bulan Juli 2020 lalu. Namun, prediksi ini bisa tercapai jika pemerintah bisa melakukan tes secara masif dan pelacakan kasus corona pada rentang bulan April hingga Mei 2020. Selain itu juga andil dari masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan yang ada seperti menggunakan masker, tidak mudik lebaran, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, dan rajin mencuci tangan untuk memutus rantai penularan.

Namun, hingga saat ini, prediksi pandemi corona hanya tinggal prediksi semata. Jumlah kasus positif di Indonesia masih terus bertambah dan semakin meningkat hingga pertengahan September 2020 ini. Bahkan kasus positif corona di Indonesia sudah menembus angka 200 ribu sejak kasus pertama muncul pada 2 Maret 2020 lalu. Mari disiplin menerapkan protokol kesehatan dengan menjaga jarak, berdiam di rumah jika tidak ada perlu, menggunakan masker, dan rajin mencuci tangan agar Indonesia dan bumi tempat kita tinggal ini bisa terbebas dari virus corona dan kita Kembali hidup normal Kembali secepatnya.

Read More

Abses Otak, Berikut Penyebab dan Gejala yang Juga Dialami Anak

Abses memang bisa muncul di mana saja, seperti di kulit, gigi, vagina, anus, hingga otak. Abses otak adalah pembengkakan yang berisi nanah yang muncul di otak. Kondisi ini terjadi ketika adanya infeksi bakteri atau jamur masuk ke jaringan otak.

Abses otak juga dapat disebabkan oleh infeksi paru-paru, jantung, telinga, serta sinus dan abses gigi.

Abses otak juga kondisi yang jarang terjadi di semua usia. Seringnya terjadi oada orang yang berusia 30-45 tahun.

Penyebab dan Faktor Risiko Abses Otak

Ada beberapa hal yang membuat abses otak dapat berkembang, yaitu:

  • Adanya infeksi di dalam tengkorak seperti infeksi telinga tengah, mastoiditis, atau sinusitis, yang berpotensi menyebar langsung ke otak
  • Adanya trauma seperti terjadinya cidera kepala yang parah
  • Infeksi di bagian tubuh lain, seperti infeksi penyebab pneumonia, endokarditis, abses gigi, yang juga berpotensi menyebar ke otak melalui aliran darah.

Ada juga faktor risiko yang meningkatkan infeksi abses otak, yaitu:

  • Kanker, diabetes, hingga adanya penyakit kronis lain
  • Lemahnya sistem imun tubuh atau rusak akibat penyakit HIV/AIDS
  • Meningitis
  • Penyakit kantung kongenital
  • Obat yang mengganggu sistem imun tubuh, misalnya sedang menjalani kemotrapi

Tidak memiliki faktor risiko ini, bukan berarti Anda tidak bisa menderita abses otak ini. Jika Anda ragu dan ingin mendapatkan informasi lebih rinci, hubungi dokter spesialis agar tidak mendiagnosis sendiri.

Tanda dan Gejala Abses Otak

Sebenarnya gejala abses otak ini dapat muncul tiba-tiba dan berkembang secara perlahan. Gejala yang mungkin terjadi antara lain:

  • Mual
  • Muntah
  • Penurunan fungsi bicara
  • Kebingungan atau disorientasi, mudah tersinggung, dan penurunan respons
  • Perubahan fungsi penglihatan
  • Penurunan fungsi gerak akibat fungsi otot hilang
  • Mengalami demam di atas 38 derajat Celsius
  • Menjadi gelisah dan kepribadian berubah
  • Sakit kepala hebat
  • Leher kaku, terutama ketika demam dan menggigil
  • Peka terhadap cahaya

Anak Juga Dapat Mengalami Abses Otak

Anak juga rentan terkena abses otak. Namun, penanganan yang cepat dapat membuat risiko komplikasinya jadi lebih berkurang.

Penyebab terjadinya abses otak pada anak umumnya karena:

  • Virus atau bakteri bisa langsung masuk ke otak akibat ada bagian kepala yang mengalami luka terbuka
  • Infeksi dapat menyebar melalui aliran darah dari area dada atau dari paru-paru
  • Infeksi juga dapat menyebar karena adanya area terdekat yang mengalami infeksi, seperti telinga, infeksi gigi, bahkan sinusitis.

Ada beberapa gejala yang khas dialami oleh anak yang mengidap abses otak. Gejala tersebut berupa:

  • Anak mengalami demam tinggi
  • Anak merasa kantuk yang tidak biasa
  • Terdapat tonjolan di bagian fontanel kepala
  • Anak menangis dengan nada yang melengking
  • Mengalami sakit kepala yang terasa sangat parah
  • Kejang-kejang
  • Mual dan muntah dengan semburan yang kuat
  • Tungkai lengan atau kaki kaku
  • Nafsu makan menjadi sangat buruk

Segelah konsultasikan ke dokter apabila anak mengalami gejala tersebut agar infeksi tidak menjadi semakin parah. Dokter akan melakukan pemeriksaan berupa CT scan, MRI, tes darah, dan pemeriksaan lainnya.

Setelah dilakukan perawatan, ada anak yang dapat pulih secara keseluruhan, namun ada juga yang membutuhkan proses yang lama. Ada berbagai kondisi yang dialami oleh anak ketika perawatan seperti, kesulitan berbicara, sulit bergerak, hingga mengalami kejang.

Read More

Penyakit Abses Hepar Yang Membahayakan

Abses hepar adalah kondisi dimana kantong nanah terbentuk di bagian hati. Kondisi ini harus segera diobati untuk mencegah terjadinya masalah serius.

Hati atau hepar adalah organ dalam sistem pencernaan yang membantu proses pencernaan dan menjalankan banyak fungsi penting lainnya. Fungsi-fungsi ini termasuk memproduksi empedu untuk membantu memecah makanan menjadi energi;  menciptakan zat-zat penting, seperti hormon;  membersihkan racun dari darah, termasuk yang dari obat-obatan, alkohol dan obat-obatan; dan mengendalikan penyimpanan dan produksi kolesterol dan pelepasan lemak.

Abses hepar paling sering terjadi karena infeksi dari kuman seperti bakteri, parasit, atau jamur. Jenis kuman tersebut juga menentukan jenis abses hepar yang Anda miliki:

  1. Bakteri menyebabkan abses hepar piogenik
  2. Parasit menyebabkan abses hepar amuba
  3. Jamur menyebabkan abses hepar jamur

Infeksi yang terjadi dapat meliputi:

  • Menyebar ke hati Anda dari struktur lain di perut Anda, seperti kantong empedu, saluran empedu, usus, atau usus buntu.
  • Bepergian dalam aliran darah ke hati Anda dari area tubuh yang lebih jauh.
  • Terjadi setelah operasi atau cedera pada hati Anda.

Gejala abses hepar biasanya memakan waktu 2 sampai 4 minggu untuk muncul.  Gejala-gejala tersebut termasuk:

  • Demam, menggigil, berkeringat
  • Ketidaknyamanan umum atau perasaan sakit
  • Nyeri di bagian kanan atas perut
  • Penurunan berat badan
  • Mual, muntah, atau keduanya
  • Diare, sembelit, atau keduanya
  • Batuk
  • Nyeri dada atau nyeri bahu
  • Mata dan kulit kekuningan (jaundice)

Pengobatan untuk abses hepar tergantung pada jenis abses hepar yang Anda miliki.  Untuk mengetahuinya, dokter Anda mungkin memasukkan jarum ke kulit Anda ke dalam abses. Sampel nanah akan dilepas dan diperiksa. Tes darah dan kultur darah untuk infeksi juga dilakukan. Dalam banyak kasus, perawatan dimulai di rumah sakit dan dapat berlanjut di rumah.

Jenis abses hati yang paling umum disebabkan oleh infeksi bakteri atau parasit.  Abses hati bakteri sering disebut abses hati piogenik. Organisme mikroskopis yang disebut ameba, yang menyebabkan gangguan usus disentri amuba, juga dapat menyebabkan abses hati amuba.

Ketika terdeteksi dalam waktu, abses hati biasanya dapat diobati dan seringkali dapat disembuhkan dengan antibiotik atau kombinasi antibiotik dan prosedur bedah untuk mengeringkan abses. Namun, jika tidak diobati, abses hati dapat pecah dan menyebarkan infeksi, menyebabkan sepsis, infeksi darah bakteri yang mengancam jiwa. Perawatan mungkin termasuk:

  • Minum obat-obatan, seperti antibiotik.

Hal ini biasanya diberikan melalui infus atau intravena yang diletakkan di pembuluh darah di lengan atau tangan Anda. Atau antibiotik juga dapat Anda konsumsi melalui mulut. Anda mungkin memerlukan obat-obatan selama beberapa minggu atau lebih lama tergantung dengan kondisi Anda.

  • Menguras nanah dari abses.

Dokter mungkin melakukan hal ini dengan menggunakan jarum atau tabung kateter yang dimasukkan ke kulit Anda. Dalam kasus yang parah, dokter mungkin membuat luka atau sayatan melalui kulit Anda untuk mencapai hati Anda.

  • Melakukan tes pencitraan. 

Dalam banyak kasus, dokter biasanya akan melakukan tes tindak lanjut dari hati Anda setelah perawatan. Hal ini sering dilakukan dengan USG, CT scan, atau MRI.

Siapa pun dapat mengalami abses hepar.  Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi yang menyebar langsung dari struktur di sekitarnya, seperti tabung penguras empedu, dari usus buntu atau usus, atau dibawa dalam aliran darah dari bagian tubuh yang lebih jauh. Abses hati juga dapat berkembang sebagai akibat dari pembedahan atau trauma lain pada hati.

Anda kemungkinan memiliki resiko terkena abses hepar, jika Anda memiliki salah satu atau beberapa dari faktor di bawah ini:

  • Penyakit saluran empedu
  • Usia lebih dari 50 tahun
  • Keganasan yang mendasarinya
  • Diabetes mellitus

Abses hati yang tidak diobati dapat menyebabkan sepsis, infeksi darah yang mengancam jiwa. Segera hubungi dokter Anda jika Anda memiliki salah satu dari gejala yang diikuti dengan demam atau sakit, yang tidak membaik dengan pengobatan atau semakin buruk, kulit atau mata kekuningan (jaundice), gejala baru, seperti kesulitan bernapas untuk menghindari komplikasi kesehatan yang serius.

Read More

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Bursitis

Bursae merupakan kantung berisi cairan yang berada di persendian Anda. Bursae ini mengelilingi daerah-daerah tempat tendon, kulit, dan jaringan otot bertemu dengan tulang. Bursae juga menambah pelumasan, mengurangi gesekan saat sendi bergerak. Bursitis adalah sebuah peradangan pada bagian bursae. Bursae yang meradang dapat menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman pada daerah yang terpengaruh. Selain itu, bursitis juga dapat membatasi pergerakan sendi Anda. Artikel ini akan membahas hal-hal apa saja yang perlu Anda ketahui tentang bursitis.

Gejala dan tipe/jenis bursitis

Gejala umum bursitis adalah rasa sakit, pembengkakan, tanda-tanda kemerahan, dan penebalan bursae. Jenis bursitis yang berbeda juga memiliki gejala spesifiknya masing-masing. Misalnya saja, pada kasus bursitis prepatellar dan olecranon, seseorang akan kesulitan menekuk lengan dan tangan. Begitu pula dengan bursitis trochanteric dan retrocalcaneal, di mana mereka yang memiliki bursitis jenis ini akan kesulitan berjalan. Bursitis trochanteric juga akan memberikan rasa sakit saat seseorang berbaring pada pinggangnya.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ada beberapa jenis bursitis. Kondisi-kondisi ini dapat bersifat kronis, dalam artian dapat terjadi dengan rutin, atau akut, yang berarti akan muncul secara tiba-tiba.

  • Bursitis perepatellar, kondisi peradangan di sekitar tempurung lutut, atau juga dikenal dengan sebutan patella. Kondisi ini dapat bersifat kronis ataupun akut.
  • Bursitis olecranon, yaitu peradangan pada siku Anda. Bursae yang meradang terletak di ujung siku atau dikenal dengan nama olecranon. Dalam beberapa kasus, bintil kecil dapat dirasakan di dalam bursae. Kondisi jenis ini biasanya bersifat kronis.
  • Bursitis trochanteric terjadi pada bursae yang ada di pinggang. Bursitis ini dapat berkembang secara perlahan. Bursitis jenis ini juga dapat muncul bersamaan dengan kondisi medis lain, misalnya arthritis.
  • Bursitis retrocalcaneal akan memberikan rasa sakit di tumit. Kondisi ini bersifat akut ataupun kronis.

Selain itu ada pula bursitis infeksi atau septik yang akan menyebatkan bursae menjadi merah, panas, dan membengkak. Bursitis ini merupakan hasil dari demam dan gejala infeksi lainnya.

Faktor risiko dan pencegahan

Beberapa faktor risiko penyakit bursitis di antaranya adalah usia yang bertambah, memiliki masalah atau gangguan medis yang kronis, penggunaan sendi yang repetitive, postur yang kurang baik, mendapatkan infeksi yang dapat menyebar ke bursae, tulang, dan persendian, serta cidera pada bagian bursae.

Bursitis bukanlah suatu kondisi yang selalu dapat dicegah. Namun, membuat perubahan gaya hidup dapat mengurangi risiko menderita bursitis dan mencegah bursitis kambuh dengan parah. Beberapa cara pencegahan yang bisa Anda lakukan di antaranya adalah:

  • Menjaga berat badan yang sehat untuk menghindari memberikan tekanan berlebih pada persedian
  • Olahraga yang rutin guna memperkuat otot-otot yang menyokong persendian
  • Sering beristirahat ketika Anda menjalankan tugas atau aktivitas yang repetitive
  • Melakukan pemanasan sebelum mengerjakan aktivitas yang keras
  • Berlatih menjaga postur yang baik saat duduk atau berdiri
  • Berhenti melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan rasa sakit

Apabila Anda menderita bursitis, dengan perawatan yang baik dan teratur kondisi akan semakin membaik seiring berjalannya waktu. Akan tetapi, penyakit bursitis dapat berubah menjadi kronis terutama apabila tidak didiagnosa dengan tepat dan dirawat serta diobati dengan baik. Bursitis juga dapat berubah menjadi kronis apabila disebabkan oleh gangguan kesehatan tertentu yang tidak dapat disembuhkan. Bicaralah dengan penyedia layanan kesehatan Anda apabila rasa sakit ataupun gejala lain tidak membaik meskipun sudah mendapatkan perawatan dari dokter.

Read More

Cara Mengatasi Kejang Demam pada Anak

Merupakan salah satu kondisi yang paling ditakuti para orang tua terhadap anaknya, yakni kejang demam. Banyak yang menghubung-hubungkan penyakit ini dengan epilepsi dan juga keterbelakangan mental sebagai efek dari munculnya kejang tersebut. Namun, terdapat penyebab lain yang menjadi faktor munculnya kondisi ini.

Dugaan akan kemungkinan munculnya kondisi ini adalah terjadi karena kenaikan suhu tubuh secara drastis, pada umumnya disebabkan oleh infeksi. Selain itu merupakan respons otak terhadap demam dan biasanya terjadi di hari pertama munculnya demam. Kondisi ini dialami anak bayi yang masih berusia enam bulan hingga lima tahun.

Penyebab Kejang Demam

Hingga saat ini penyebab timbulnya kondisi ini belum diketahui, namun sebagian besar kasus yang terjadi. Para penderita kondisi ini memiliki hubungan yang erat dengan demam tinggi dan diakibatkan infeksi virus seperti flu, infeksi telinga, caca air atau tonsilitis yang biasa disebut dengan radang amandel.

Kondisi ini juga relatif terjadi pada anak setelah dilakukan imunisasi, seperti imunisasi DPT/Td (Dhipteri-Pertussis-Tetanus) atau vaksin ulangannya dan MMR (Mumps-Measles-Rubella). Sebenarnya bukan vaksin yang menjadi penyebab munculnya kondisi ini, tetapi demam yang diakibatkan karena vaksin tersebut.

Kemudian, faktor genetik juga menjadi cenderung menjadi alasan terjadinya kejang. Hal ini terbukti, satu dari tiga anak yang mengalami kondisi ini kompleks bisa disebabkan faktor anggota keluarga yang sebelumnya pernah mengalami kondisi ini. Terutama jika salah satu anggota keluarga mengalami salah satu kejadian berikut ini.

Cara Mengatasi

Untuk mengatasi kondisi ini para orang tua harus tetap tenang, kondisi kejang pada umumnya diawali dengan demam. Dalam masa ini, para orang tua bisa memberikan obat penurun panas seperti ibuprofen dan paracetamol, fungsinya adalah membuat anak merasa lebih nyaman dengan suhu tubuh yang tidak terlalu tinggi.

Namun, penggunaan kedua obat tersebut tidak mencegah timbulnya kejang, ditekankan untuk tidak menggunakan aspirin karena obat jenis ini malah memicu munculnya kejang dan bahkan berisiko kematian. Pada umumnya, dokter akan memberikan resep obat seperti diazepam, lorazepam dan clonazepam.

Beberapa obat tersebut biasanya akan diberikan sebagai resep dokter untuk menangani kejang yang berulang yang dialami sang anak. Lebih dari itu, terdapat langkah antisipasi yang perlu dilakukan para orang tua ketika sang buah hati mengalami kejang. Beberapa cara ini juga bisa dilakukan di rumah dalam kondisi tak terduga.

  • Usahakan untuk tidak menahan gerakan kejang pada anak, letakkan anak di permukaan yang aman seperti karpet di lantai.
  • Keluarkan segala sesuatu yang terdapat di dalam mulut si anak yang sedang kejang, hal ini dilakukan untuk menghindari si anak tersedak.
  • Posisikan anak ke samping dan bukan terlentang, hal ini bermanfaat untuk mencegah anak agar tidak menelan muntahannya sendiri.
  • Usahakan untuk menghitung durasi demam, jika perlu panggil petugas medis agar si anak segera di bawa ke rumah sakit dan mendapat penanganan di Instalasi Gawat Darurat.
  • Usahakan agar para orang tua tetap berada di samping anak, hal ini bermanfaat agar bisa menenangkan anak.

Diagnosis penyakit kejang demam pada anak akan dilakukan oleh dokter ketika melakukan beberapa pemeriksaan. Di antaranya meliputi tes urine, tes darah, pemeriksaan cairan tulang belakang untuk mengetahui apakah terdapat infeksi sistem saraf pusat. Bisa jadi seperti meningitis yang terjadi pada anak yang mengalami kondisi kejang ini.

Read More