Category Penyakit

Prediksi Pandemi Corona di Indonesia Berakhir Menurut Ahli

Masih belum jelas dan tidak pastinya kapan pandemi virus corona ini akan berakhir di Indonesia dan dunia. Meski begitu, sudah banyak prediksi pandemi corona berakhir dari para ilmuwan.

Kita dan semua orang pasti mempertanyakan hal yang sama terkait prediksi pandemi corona ini berakhir. Sebab, ada banyak sekali sisi dan aspek kehidupan yang terganggu akibat adanya virus ini. Sebut saja kesehatan, ekonomi, hingga angka kemiskinan yang terus meningkat.

Nah, untuk menjawab pertanyaan terkait berakhirnya pandemi ini, mari kita lihat beberapa prediksi pandemi corona dari para pakar atau ahli di institusi nasional Indonesia.

Prediksi Pandemi Corona di Indonesia Berakhir Menurut Pakar

Berikut beberapa prediksi dari beberapa ahli terkait kapan pandemi corona akan berakhir di Indonesia menggunakan model perhitungan yang berbeda-beda.

  • Prediksi Menurut Ahli UNS

Menurut salah seorang ilmuwan Matematika dari Universitas Sebelas Maret, Sutanto Sastraredja, mempredikasi puncak covid-19 di Indonesia akan terjadi pertengahan bulan Mei 2020. Prediksi ini didasarkan pada model perhitungan SIQR. Tentu saja prediksi ini bergantung pada bagaimana peraturan dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia terkait penanganan dan pencegahan covid-19.

  • Prediksi BIN

Badan Intelijen Nasional (BIN) pada 13 Maret 2020 lalu memprediksi bahwa pandemi virus corona di Indonesia akan memuncak pada 2-22 Mei 2020. Namun, hingga sekarang sudah pertengahan September, jumlah kasus positif di Indonesia masih terus bertambah secara signifikan.

  • Guru Besar UI

Menurut Hasbullah Thabrany yang merupakan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat niversitas Indonesia memprediksi bahwa pandemi akan berakhir pada Mei 2020. Kemungkinan ini hanya bisa terjadi jika masyarakat patuh dan disiplin menjalankan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak, hingga tidak melakukan kontak tatap muka.

  • Menurut Ahli UGM

Menurut ahli statiskika dan alumni dari FMIPA Universitas Gadjah Mada memprediksi bahwa pandemi corona di Indonesia ini akan berakhir pada 29 Mei 2020. Hal ini berdasarkan pada model perhitungan probabilistik yang didasarkan pada data nyata.

Namun lagi-lagi, prediksi ini menyebutkan bahwa Indonesia bisa terbebas sesuai prediksi hanya jika ada intervensi ketat dari pemerintah, seperti adanya larangan mudik, memberlakukan partial lockdown dan upaya lainnya.

  • Prediksi Menurut Ahli ITB

Ahli dari Pusat Permodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung juga turut memprediksi mengenai kapan pandemi corona di Indonesia akan berakhir. ITB memprediksi bahwa corona akan berakhir ada akhir Mei atau awal Juni 2020. Dengan asumsi puncak covid-19 terjadi pada minggu kedua dan ketiga bulan April 2020 lalu.

  • Menurut Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Dony Monardo juga turut memberikan prediksi pandemi corona ini akan berakhir di Indonesia. Menurut dia, Indonesia diharapkan bisa hidup normal kembali pada bulan Juli 2020 lalu. Namun, prediksi ini bisa tercapai jika pemerintah bisa melakukan tes secara masif dan pelacakan kasus corona pada rentang bulan April hingga Mei 2020. Selain itu juga andil dari masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan yang ada seperti menggunakan masker, tidak mudik lebaran, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, dan rajin mencuci tangan untuk memutus rantai penularan.

Namun, hingga saat ini, prediksi pandemi corona hanya tinggal prediksi semata. Jumlah kasus positif di Indonesia masih terus bertambah dan semakin meningkat hingga pertengahan September 2020 ini. Bahkan kasus positif corona di Indonesia sudah menembus angka 200 ribu sejak kasus pertama muncul pada 2 Maret 2020 lalu. Mari disiplin menerapkan protokol kesehatan dengan menjaga jarak, berdiam di rumah jika tidak ada perlu, menggunakan masker, dan rajin mencuci tangan agar Indonesia dan bumi tempat kita tinggal ini bisa terbebas dari virus corona dan kita Kembali hidup normal Kembali secepatnya.

Read More

Abses Otak, Berikut Penyebab dan Gejala yang Juga Dialami Anak

Abses memang bisa muncul di mana saja, seperti di kulit, gigi, vagina, anus, hingga otak. Abses otak adalah pembengkakan yang berisi nanah yang muncul di otak. Kondisi ini terjadi ketika adanya infeksi bakteri atau jamur masuk ke jaringan otak.

Abses otak juga dapat disebabkan oleh infeksi paru-paru, jantung, telinga, serta sinus dan abses gigi.

Abses otak juga kondisi yang jarang terjadi di semua usia. Seringnya terjadi oada orang yang berusia 30-45 tahun.

Penyebab dan Faktor Risiko Abses Otak

Ada beberapa hal yang membuat abses otak dapat berkembang, yaitu:

  • Adanya infeksi di dalam tengkorak seperti infeksi telinga tengah, mastoiditis, atau sinusitis, yang berpotensi menyebar langsung ke otak
  • Adanya trauma seperti terjadinya cidera kepala yang parah
  • Infeksi di bagian tubuh lain, seperti infeksi penyebab pneumonia, endokarditis, abses gigi, yang juga berpotensi menyebar ke otak melalui aliran darah.

Ada juga faktor risiko yang meningkatkan infeksi abses otak, yaitu:

  • Kanker, diabetes, hingga adanya penyakit kronis lain
  • Lemahnya sistem imun tubuh atau rusak akibat penyakit HIV/AIDS
  • Meningitis
  • Penyakit kantung kongenital
  • Obat yang mengganggu sistem imun tubuh, misalnya sedang menjalani kemotrapi

Tidak memiliki faktor risiko ini, bukan berarti Anda tidak bisa menderita abses otak ini. Jika Anda ragu dan ingin mendapatkan informasi lebih rinci, hubungi dokter spesialis agar tidak mendiagnosis sendiri.

Tanda dan Gejala Abses Otak

Sebenarnya gejala abses otak ini dapat muncul tiba-tiba dan berkembang secara perlahan. Gejala yang mungkin terjadi antara lain:

  • Mual
  • Muntah
  • Penurunan fungsi bicara
  • Kebingungan atau disorientasi, mudah tersinggung, dan penurunan respons
  • Perubahan fungsi penglihatan
  • Penurunan fungsi gerak akibat fungsi otot hilang
  • Mengalami demam di atas 38 derajat Celsius
  • Menjadi gelisah dan kepribadian berubah
  • Sakit kepala hebat
  • Leher kaku, terutama ketika demam dan menggigil
  • Peka terhadap cahaya

Anak Juga Dapat Mengalami Abses Otak

Anak juga rentan terkena abses otak. Namun, penanganan yang cepat dapat membuat risiko komplikasinya jadi lebih berkurang.

Penyebab terjadinya abses otak pada anak umumnya karena:

  • Virus atau bakteri bisa langsung masuk ke otak akibat ada bagian kepala yang mengalami luka terbuka
  • Infeksi dapat menyebar melalui aliran darah dari area dada atau dari paru-paru
  • Infeksi juga dapat menyebar karena adanya area terdekat yang mengalami infeksi, seperti telinga, infeksi gigi, bahkan sinusitis.

Ada beberapa gejala yang khas dialami oleh anak yang mengidap abses otak. Gejala tersebut berupa:

  • Anak mengalami demam tinggi
  • Anak merasa kantuk yang tidak biasa
  • Terdapat tonjolan di bagian fontanel kepala
  • Anak menangis dengan nada yang melengking
  • Mengalami sakit kepala yang terasa sangat parah
  • Kejang-kejang
  • Mual dan muntah dengan semburan yang kuat
  • Tungkai lengan atau kaki kaku
  • Nafsu makan menjadi sangat buruk

Segelah konsultasikan ke dokter apabila anak mengalami gejala tersebut agar infeksi tidak menjadi semakin parah. Dokter akan melakukan pemeriksaan berupa CT scan, MRI, tes darah, dan pemeriksaan lainnya.

Setelah dilakukan perawatan, ada anak yang dapat pulih secara keseluruhan, namun ada juga yang membutuhkan proses yang lama. Ada berbagai kondisi yang dialami oleh anak ketika perawatan seperti, kesulitan berbicara, sulit bergerak, hingga mengalami kejang.

Read More

Penyakit Abses Hepar Yang Membahayakan

Abses hepar adalah kondisi dimana kantong nanah terbentuk di bagian hati. Kondisi ini harus segera diobati untuk mencegah terjadinya masalah serius.

Hati atau hepar adalah organ dalam sistem pencernaan yang membantu proses pencernaan dan menjalankan banyak fungsi penting lainnya. Fungsi-fungsi ini termasuk memproduksi empedu untuk membantu memecah makanan menjadi energi;  menciptakan zat-zat penting, seperti hormon;  membersihkan racun dari darah, termasuk yang dari obat-obatan, alkohol dan obat-obatan; dan mengendalikan penyimpanan dan produksi kolesterol dan pelepasan lemak.

Abses hepar paling sering terjadi karena infeksi dari kuman seperti bakteri, parasit, atau jamur. Jenis kuman tersebut juga menentukan jenis abses hepar yang Anda miliki:

  1. Bakteri menyebabkan abses hepar piogenik
  2. Parasit menyebabkan abses hepar amuba
  3. Jamur menyebabkan abses hepar jamur

Infeksi yang terjadi dapat meliputi:

  • Menyebar ke hati Anda dari struktur lain di perut Anda, seperti kantong empedu, saluran empedu, usus, atau usus buntu.
  • Bepergian dalam aliran darah ke hati Anda dari area tubuh yang lebih jauh.
  • Terjadi setelah operasi atau cedera pada hati Anda.

Gejala abses hepar biasanya memakan waktu 2 sampai 4 minggu untuk muncul.  Gejala-gejala tersebut termasuk:

  • Demam, menggigil, berkeringat
  • Ketidaknyamanan umum atau perasaan sakit
  • Nyeri di bagian kanan atas perut
  • Penurunan berat badan
  • Mual, muntah, atau keduanya
  • Diare, sembelit, atau keduanya
  • Batuk
  • Nyeri dada atau nyeri bahu
  • Mata dan kulit kekuningan (jaundice)

Pengobatan untuk abses hepar tergantung pada jenis abses hepar yang Anda miliki.  Untuk mengetahuinya, dokter Anda mungkin memasukkan jarum ke kulit Anda ke dalam abses. Sampel nanah akan dilepas dan diperiksa. Tes darah dan kultur darah untuk infeksi juga dilakukan. Dalam banyak kasus, perawatan dimulai di rumah sakit dan dapat berlanjut di rumah.

Jenis abses hati yang paling umum disebabkan oleh infeksi bakteri atau parasit.  Abses hati bakteri sering disebut abses hati piogenik. Organisme mikroskopis yang disebut ameba, yang menyebabkan gangguan usus disentri amuba, juga dapat menyebabkan abses hati amuba.

Ketika terdeteksi dalam waktu, abses hati biasanya dapat diobati dan seringkali dapat disembuhkan dengan antibiotik atau kombinasi antibiotik dan prosedur bedah untuk mengeringkan abses. Namun, jika tidak diobati, abses hati dapat pecah dan menyebarkan infeksi, menyebabkan sepsis, infeksi darah bakteri yang mengancam jiwa. Perawatan mungkin termasuk:

  • Minum obat-obatan, seperti antibiotik.

Hal ini biasanya diberikan melalui infus atau intravena yang diletakkan di pembuluh darah di lengan atau tangan Anda. Atau antibiotik juga dapat Anda konsumsi melalui mulut. Anda mungkin memerlukan obat-obatan selama beberapa minggu atau lebih lama tergantung dengan kondisi Anda.

  • Menguras nanah dari abses.

Dokter mungkin melakukan hal ini dengan menggunakan jarum atau tabung kateter yang dimasukkan ke kulit Anda. Dalam kasus yang parah, dokter mungkin membuat luka atau sayatan melalui kulit Anda untuk mencapai hati Anda.

  • Melakukan tes pencitraan. 

Dalam banyak kasus, dokter biasanya akan melakukan tes tindak lanjut dari hati Anda setelah perawatan. Hal ini sering dilakukan dengan USG, CT scan, atau MRI.

Siapa pun dapat mengalami abses hepar.  Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi yang menyebar langsung dari struktur di sekitarnya, seperti tabung penguras empedu, dari usus buntu atau usus, atau dibawa dalam aliran darah dari bagian tubuh yang lebih jauh. Abses hati juga dapat berkembang sebagai akibat dari pembedahan atau trauma lain pada hati.

Anda kemungkinan memiliki resiko terkena abses hepar, jika Anda memiliki salah satu atau beberapa dari faktor di bawah ini:

  • Penyakit saluran empedu
  • Usia lebih dari 50 tahun
  • Keganasan yang mendasarinya
  • Diabetes mellitus

Abses hati yang tidak diobati dapat menyebabkan sepsis, infeksi darah yang mengancam jiwa. Segera hubungi dokter Anda jika Anda memiliki salah satu dari gejala yang diikuti dengan demam atau sakit, yang tidak membaik dengan pengobatan atau semakin buruk, kulit atau mata kekuningan (jaundice), gejala baru, seperti kesulitan bernapas untuk menghindari komplikasi kesehatan yang serius.

Read More

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Bursitis

Bursae merupakan kantung berisi cairan yang berada di persendian Anda. Bursae ini mengelilingi daerah-daerah tempat tendon, kulit, dan jaringan otot bertemu dengan tulang. Bursae juga menambah pelumasan, mengurangi gesekan saat sendi bergerak. Bursitis adalah sebuah peradangan pada bagian bursae. Bursae yang meradang dapat menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman pada daerah yang terpengaruh. Selain itu, bursitis juga dapat membatasi pergerakan sendi Anda. Artikel ini akan membahas hal-hal apa saja yang perlu Anda ketahui tentang bursitis.

Gejala dan tipe/jenis bursitis

Gejala umum bursitis adalah rasa sakit, pembengkakan, tanda-tanda kemerahan, dan penebalan bursae. Jenis bursitis yang berbeda juga memiliki gejala spesifiknya masing-masing. Misalnya saja, pada kasus bursitis prepatellar dan olecranon, seseorang akan kesulitan menekuk lengan dan tangan. Begitu pula dengan bursitis trochanteric dan retrocalcaneal, di mana mereka yang memiliki bursitis jenis ini akan kesulitan berjalan. Bursitis trochanteric juga akan memberikan rasa sakit saat seseorang berbaring pada pinggangnya.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ada beberapa jenis bursitis. Kondisi-kondisi ini dapat bersifat kronis, dalam artian dapat terjadi dengan rutin, atau akut, yang berarti akan muncul secara tiba-tiba.

  • Bursitis perepatellar, kondisi peradangan di sekitar tempurung lutut, atau juga dikenal dengan sebutan patella. Kondisi ini dapat bersifat kronis ataupun akut.
  • Bursitis olecranon, yaitu peradangan pada siku Anda. Bursae yang meradang terletak di ujung siku atau dikenal dengan nama olecranon. Dalam beberapa kasus, bintil kecil dapat dirasakan di dalam bursae. Kondisi jenis ini biasanya bersifat kronis.
  • Bursitis trochanteric terjadi pada bursae yang ada di pinggang. Bursitis ini dapat berkembang secara perlahan. Bursitis jenis ini juga dapat muncul bersamaan dengan kondisi medis lain, misalnya arthritis.
  • Bursitis retrocalcaneal akan memberikan rasa sakit di tumit. Kondisi ini bersifat akut ataupun kronis.

Selain itu ada pula bursitis infeksi atau septik yang akan menyebatkan bursae menjadi merah, panas, dan membengkak. Bursitis ini merupakan hasil dari demam dan gejala infeksi lainnya.

Faktor risiko dan pencegahan

Beberapa faktor risiko penyakit bursitis di antaranya adalah usia yang bertambah, memiliki masalah atau gangguan medis yang kronis, penggunaan sendi yang repetitive, postur yang kurang baik, mendapatkan infeksi yang dapat menyebar ke bursae, tulang, dan persendian, serta cidera pada bagian bursae.

Bursitis bukanlah suatu kondisi yang selalu dapat dicegah. Namun, membuat perubahan gaya hidup dapat mengurangi risiko menderita bursitis dan mencegah bursitis kambuh dengan parah. Beberapa cara pencegahan yang bisa Anda lakukan di antaranya adalah:

  • Menjaga berat badan yang sehat untuk menghindari memberikan tekanan berlebih pada persedian
  • Olahraga yang rutin guna memperkuat otot-otot yang menyokong persendian
  • Sering beristirahat ketika Anda menjalankan tugas atau aktivitas yang repetitive
  • Melakukan pemanasan sebelum mengerjakan aktivitas yang keras
  • Berlatih menjaga postur yang baik saat duduk atau berdiri
  • Berhenti melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan rasa sakit

Apabila Anda menderita bursitis, dengan perawatan yang baik dan teratur kondisi akan semakin membaik seiring berjalannya waktu. Akan tetapi, penyakit bursitis dapat berubah menjadi kronis terutama apabila tidak didiagnosa dengan tepat dan dirawat serta diobati dengan baik. Bursitis juga dapat berubah menjadi kronis apabila disebabkan oleh gangguan kesehatan tertentu yang tidak dapat disembuhkan. Bicaralah dengan penyedia layanan kesehatan Anda apabila rasa sakit ataupun gejala lain tidak membaik meskipun sudah mendapatkan perawatan dari dokter.

Read More

Cara Mengatasi Kejang Demam pada Anak

Merupakan salah satu kondisi yang paling ditakuti para orang tua terhadap anaknya, yakni kejang demam. Banyak yang menghubung-hubungkan penyakit ini dengan epilepsi dan juga keterbelakangan mental sebagai efek dari munculnya kejang tersebut. Namun, terdapat penyebab lain yang menjadi faktor munculnya kondisi ini.

Dugaan akan kemungkinan munculnya kondisi ini adalah terjadi karena kenaikan suhu tubuh secara drastis, pada umumnya disebabkan oleh infeksi. Selain itu merupakan respons otak terhadap demam dan biasanya terjadi di hari pertama munculnya demam. Kondisi ini dialami anak bayi yang masih berusia enam bulan hingga lima tahun.

Penyebab Kejang Demam

Hingga saat ini penyebab timbulnya kondisi ini belum diketahui, namun sebagian besar kasus yang terjadi. Para penderita kondisi ini memiliki hubungan yang erat dengan demam tinggi dan diakibatkan infeksi virus seperti flu, infeksi telinga, caca air atau tonsilitis yang biasa disebut dengan radang amandel.

Kondisi ini juga relatif terjadi pada anak setelah dilakukan imunisasi, seperti imunisasi DPT/Td (Dhipteri-Pertussis-Tetanus) atau vaksin ulangannya dan MMR (Mumps-Measles-Rubella). Sebenarnya bukan vaksin yang menjadi penyebab munculnya kondisi ini, tetapi demam yang diakibatkan karena vaksin tersebut.

Kemudian, faktor genetik juga menjadi cenderung menjadi alasan terjadinya kejang. Hal ini terbukti, satu dari tiga anak yang mengalami kondisi ini kompleks bisa disebabkan faktor anggota keluarga yang sebelumnya pernah mengalami kondisi ini. Terutama jika salah satu anggota keluarga mengalami salah satu kejadian berikut ini.

Cara Mengatasi

Untuk mengatasi kondisi ini para orang tua harus tetap tenang, kondisi kejang pada umumnya diawali dengan demam. Dalam masa ini, para orang tua bisa memberikan obat penurun panas seperti ibuprofen dan paracetamol, fungsinya adalah membuat anak merasa lebih nyaman dengan suhu tubuh yang tidak terlalu tinggi.

Namun, penggunaan kedua obat tersebut tidak mencegah timbulnya kejang, ditekankan untuk tidak menggunakan aspirin karena obat jenis ini malah memicu munculnya kejang dan bahkan berisiko kematian. Pada umumnya, dokter akan memberikan resep obat seperti diazepam, lorazepam dan clonazepam.

Beberapa obat tersebut biasanya akan diberikan sebagai resep dokter untuk menangani kejang yang berulang yang dialami sang anak. Lebih dari itu, terdapat langkah antisipasi yang perlu dilakukan para orang tua ketika sang buah hati mengalami kejang. Beberapa cara ini juga bisa dilakukan di rumah dalam kondisi tak terduga.

  • Usahakan untuk tidak menahan gerakan kejang pada anak, letakkan anak di permukaan yang aman seperti karpet di lantai.
  • Keluarkan segala sesuatu yang terdapat di dalam mulut si anak yang sedang kejang, hal ini dilakukan untuk menghindari si anak tersedak.
  • Posisikan anak ke samping dan bukan terlentang, hal ini bermanfaat untuk mencegah anak agar tidak menelan muntahannya sendiri.
  • Usahakan untuk menghitung durasi demam, jika perlu panggil petugas medis agar si anak segera di bawa ke rumah sakit dan mendapat penanganan di Instalasi Gawat Darurat.
  • Usahakan agar para orang tua tetap berada di samping anak, hal ini bermanfaat agar bisa menenangkan anak.

Diagnosis penyakit kejang demam pada anak akan dilakukan oleh dokter ketika melakukan beberapa pemeriksaan. Di antaranya meliputi tes urine, tes darah, pemeriksaan cairan tulang belakang untuk mengetahui apakah terdapat infeksi sistem saraf pusat. Bisa jadi seperti meningitis yang terjadi pada anak yang mengalami kondisi kejang ini.

Read More

Penyebab dan Faktor Risiko Infeksi Ginjal

Nyeri punggung bagian bawah menjadi salah satu gejala infeksi ginjal yang dapat terjadi

Tahukah Anda bahwa ginjal juga dapat menderita infeksi? Infeksi ginjal biasanya disebabkan oleh infeksi yang terjadi pada saluran kandung kemih, yang kemudian menyebar kedua belah ginjal. Infeksi ginjal adalah kondisi yang dapat terjadi dengan tiba-tiba, ataupun merupakan sebuah kondisi kronis. Selain menyebabkan rasa sakit yang teramat sangat, infeksi ginjal juga dapat menyebabkan kematian apabila tidak dirawat dan diobati secepatnya. Istilah medis untuk kondisi ini dikenal dengan sebutan pyelonephritis. 

Apa yang menyebabkan infeksi ginjal?

Setiap orang memiliki dua buah ginjal berukuran sebesar kepalan tangan yang terletak di bagian atas perut, masing-masing ada di sebelah kanan dan kiri. Ginjal memiliki fungsi yang penting bagi kesehatan tubuh karena kemampuannya dalam menyaring limbah sisa produk dari darah dan membuangnya keluar tubuh melalui urin. Ginjal juga memiliki tugas dalam mengatur air dan elektrolit yang terkandung di dalam darah. Hal inilah yang menyebabkan fungsi ginjal sangat penting bagi kesehatan tubuh. Kebanyakan kasus infeksi ginjal disebabkan oleh bakteri dan virus yang masuk  ke dalam saluran kemih. Bakteri. Yang menyebabkan infeksi ini biasanya adalah bakteri Escherichia coli atau lebih dikenal dengan sebutan E. coli. Bakteri ini ditemukan di dalam usus dan dapat masuk ke dalam saluran kemih melalui uretra, bagian organ tubuh yang berbentuk seperti tabung dan menyalurkan urin ke luar dari dalam tubuh. Bakteri tersebut kemudian akan berkembang biak dan menyebar ke kandung kemih dan juga ginjal. 

Beberapa penyebab infeksi ginjal yang lain, namun jarang ditemui, adalah bakteri akibat infeksi yang terjadi di dalam tubuh, misalnya dari sendi buatan, yang menyebar melalui aliran darah ke ginjal, operasi kandung kemih dan juga ginjal, serta sesuatu yang menghambat aliran urin, misalnya batu ginjal atau tumor di dalam saluran kemih, prostat yang membesar pada pria, dan masalah atau gangguan yang diakibatkan oleh bentuk saluran kemih Anda. 

Faktor risiko infeksi ginjal

Semua orang berisiko untuk menderita infeksi ginjal. Namun ada beberapa faktor yang dapat membuat seseorang memiliki risiko yang lebih tinggi, seperti:

  • Infeksi saluran kemih (UTI). Sekitar 1 dari 30 kasus infeksi saluran kemih dapat menyebabkan infeksi ginjal
  • Wanita. Perempuan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita infeksi ginjal apabila dibandingkan dengan pria. Hal ini disebabkan urethra yang dimiliki oleh wanita lebih pendek dari pria. Selain itu, ureter pada wanita lebih dekat dengan vagina dan dubur, sehingga dapat menyebabkan bakteri untuk menyebar dengan lebih mudah dan masuk ke dalam saluran kemih. 
  • Hamil. Wanita hamil juga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita infeksi ginjal karena saluran kemih bergeser sehingga memudahkan bakteri untuk masuk ke daerah ginjal. 
  • Sistem imun yang lemah. Orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah sangat rentan terserang infeksi ginjal. Orang-orang dengan sistem imun lemah tersebut seperti mereka yang menderita diabetes, HIV atau AIDS, dan orang-orang yang sedang dalam perawatan obat-obatan yang dapat menekan sistem kekebalan tubuh. 

Apabila Anda memiliki kesehatan keseluruhan yang baik, Anda dapat sembuh dari infeksi ginjal tanpa perlu menderita komplikasi kesehatan apapun. Perlu diingat bagi Anda untuk rutin mengunjungi dokter untuk mendapatkan diagnosa dan perawatan dengan segera apabila Anda memiliki tanda-tanda khusus infeksi ginjal yang mengkhawatirkan. Mendapatkan perawatan sejak dini dapat mengurangi risiko Anda menderita komplikasi di kemudian hari.

Read More

Rekomendasi Obat Sakit Perut Anak yang Aman

Saat masa pertumbuhannya, anak-anak pastinya pernah mengalami sakit perut. Pada umumnya, sakit perut anak bukan disebabkan oleh penyakit yang serius dan tidak membutuhkan obat sakit perut anak. Akan tetapi, Anda harus memerhatikan gejala yang menyertai sakit perut anak karena bisa saja sakit perut tersebut merupakan tanda dari penyakit yang lebih serius.

Pemberian obat-obatan medis hendaknya dilakukan ketika perawatan rumahan di atas tidak memberikan pengaruh pada sakit perut anak. Segera periksakan ke dokter jika sakit perut tak kunjung hilang lebih dari 24 jam, apalagi jika disertai muntah, diare yang berdarah, dan demam yang tinggi.

Dokter akan meresepkan obat sakit perut anak sesuai dengan penyebabnya, seperti:

·      Oralit

Obat ini akan diberikan ketika si kecil mengalami diare, muntah dan dehidrasi. Oralit merupakan larutan yang terdiri dari gula dan garam, kegunaannya adalah menggantikan cairan elektrolit dan mineral yang hilang.

·      Pencahar

Obat pencahar, seperti laktulosa atau glycerin, disarankan untuk diberikan pada anak yang sakit perut karena kesulitan buang air besar atau konstipasi. Kondisi ini juga sering disebut sembelit, di mana frekuensi anak untuk buang air besar berkurang hingga tiga kali dalam seminggu atau kurang, merasa kesakitan dan tidak nyaman ketika buang air besar, atau butuh mengejan keras ketika mengeluarkan kotoran.

·      Simethicone

Simethicone adalah obat sakit perut yang disebabkan karena adanya gas berlebih di perut sehingga menyebabkan perut anak kembung. Obat ini membantu gas mudah untuk dikeluarkan.

·      Antasida

Jika dokter mencurigai adanya kelebihan asam lambung pada anak yang memicu sakit perut, maka dokter akan memberikan antasida dengan tujuan menurunkan produksi asam lambung sehingga nyeri mereda.

·      Antidiare

Rata-rata sakit perut pada anak menyebabkan diare. Untuk mengatasinya, Anda dapat memberikan obat antidiare. Hanya saja penggunaan antidiare ini harus dengan pertimbangan dokter. Pasalnya, kandungan yang biasa terdapat pada antidiare, seperti bismuth, magnesium, atau alumunium, dapat berbahaya pada bayi dan balita.

·      Antibiotik

Gangguan saluran cerna dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, untuk itu dokter akan memberikan antibiotik. Pemberian antibiotik dapat berlangsung selama 5-7 hari, dan tidak boleh terputus karena menyebabkan resistensi obat.

·      Operasi usus buntu

Anda harus waspada jika anak mengeluh sakit yang luar biasa di bagian kanan bawah perut atau sekitar pusar. Nyeri ini biasanya datang secara tiba-tiba diawali dengan kram dan dapat bertambah buruk jika bergerak, batuk, atau bersin. Hingga saat ini, tidak ada obat untuk mengatasi usus bantu. Cara paling efektif untuk mengatasi penyakit ini adalah dengan dioperasi. Meski tampak sepele, sakit perut melilit tetap bisa mengganggu kenyamanan dan rutinitas Si Kecil. Namun sebelum membeli obat sakit perut melilit di apotek, ketahui dulu penyebabnya agar dapat sembuh secara optimal

Read More

Apa yang Terjadi pada Wanita Hamil Tanpa Morning Sickness?

Mual dan muntah saat tengah mengandung adalah sesuatu yang dapat dikatakan wajar, meski tidak sepenuhnya baik. Pasalnya, jumlah wanita hamil yang mengalami itu menunjukkan angka yang fantastis, yakni hingga 70 persen. Artinya, karena jumlahnya dominan, situasi yang kita kenal dengan morning sickness ini bisa dimaklumi.

Sedangkan sebaliknya, mereka yang tidak mengalami morning sickness malah dianggap “aneh”. Tak jarang, ibu hamil tanpa mual dan muntah kerap dikait-kaitkan dengan kesehatan dan nasib si janin. Padahal, stigma itu adalah mitos belaka atau tak sepenuhnya benar. Meskipun pada beberapa kasus kondisi ini memang dapat membahayakan bagi janin. Akan tetapi, kebenarannya tetap harus dibuktikan lewat pemeriksaan klinis.

Morning sickness terjadi karena peningkatan beberapa hormon, terutama Human Chorionic Gonadotropin (hCG). Peningkatan hormon memang terjadi sangat pesat di awal kehamilan. Hormon hCG sendiri meningkat dua kali lipat setiap minggunya di beberapa minggu pertama kehamilan. Di trimester kedua, kadar hormon-hormon itu masih meningkat, tetapi sudah dalam level yang bisa ditangani tubuh.

Nah, pada beberapa wanita yang tidak mual dan muntah sama sekali bisa menjadi sinyal bahwa kadar hormon di tubuhnya rendah. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko keguguran, walau tidak selalu demikian.

Angka 30 persen sisanya ada lantaran dipengaruhi oleh beberapa faktor. Mereka yang tidak mengalami morning sickness terkait erat dengan kondisi tubuhnya masing-masing. Pasalnya, morning sickness terjadi karena ada “sesuatu” di dalam tubuh si ibu hamil.

Nah, ibu hamil yang tubuhnya bisa menghadapi peningkatan pesat hCG, estrogen, dan beberapa hormon lain di trimester awal kemungkinan besar tidak akan mengalami morning sickness.

Selain itu, kondisi-kondisi di bawah ini juga bisa menyebabkan ibu hamil sama sekali tidak merasakan morning sickness, di antaranya:

  • Kadar hCG dalam tubuh ibu hamil rendah

Seperti telah disebutkan di atas, salah satu tanda awal kehamilan adalah meningkatnya jumlah hormon hCG. Peningkatan hormon ini sekaligus menandakan keberadaan plasenta yang tengah berkembang dalam tubuh.

Peningkatan kadar hCG yang tidak begitu signifikan menjadi salah satu sebab ibu hamil tidak mengalami morning sickness. Meski demikian, tenang saja, situasi tersebut bukan hal buruk sepanjang dokter memberikan sinyal aman..

  • Mampu menoleransi bau-bauan tertentu

Sudah rahasia umum jika ibu hamil mempunyai indera penciuman yang lebih peka, sehingga sensitif pada bau-bauan tertentu. Jika Anda mampu menoleransi bau-bauan tertentu, besar kemungkinan Anda tidak mengalami morning sickness.

  • Kondisi tubuh menerima perubahan dengan baik

Selain beberapa kondisi yang telah disebutkan, tidak mengalami morning sickness bisa juga disebabkan karena tubuh telah mampu menerima kehamilan ini dengan baik.

Ibarat benda asing, kehadiran janin dalam rahim memaksa tubuh Anda untuk beradaptasi. Salah satunya melalui peningkatan hormon-hormon penting guna menyiapkan tubuh selama masa kehamilan. Pada beberapa ibu hamil, tinggi rendahnya kadar hormon tersebut tidak begitu berpengaruh. Tubuhnya bisa beradaptasi dengan baik, sehingga keluhan mual muntah tidak muncul.

  • Masih menyusui

Sebagian besar wanita mengaku bahwa aktivitas menyusui memiliki keuntungan dalam menekan keluhan morning sickness. Meski belum ada bukti penelitian yang sahih, kenyataan di lapangan ini menunjukkan bahwa menyusui berpotensi mengurangi keluhan mual.

  • Mampu mengelola stres dengan tepat

Sama seperti menghadapi penyakit maag, cara terbaik mengurangi mual muntah adalah dengan menghindari stres. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil yang mampu mengelola stres dengan tepat cenderung tidak mengeluhkan morning sickness.

Jadi, selama hamil Anda perlu menata pikiran dengan saksama agar tidak terbebani banyak hal, terutama kecemasan akan sesuatu yang belum terjadi. Apalagi, stres pada masa kehamilan berdampak langsung pada perkembangan janin dalam kandungan.

***

Adapun hubungan antara tidak mengalami morning sickness dengan potensi keguguran sebenarnya masih terus dikaji oleh para ahli. Dr. Ronna L. Chan, seorang peneliti dari The University of North Carolina mengatakan bahwa wanita yang tidak mual sejak awal kehamilan tidak perlu merasa khawatir.

Tidak semua wanita hamil harus mengalami mual karena semua wanita selalu mengalami gejala kehamilan yang berbeda-beda. Meski pada kasus tertentu dibuktikan bahwa tidak mengalami morning sickness bisa berisiko terhadap kemungkinan keguguran, walau tidak selalu terjadi demikian.

Namun, juga dalam penemuannya, Dr. Ronna membuktikan bahwa wanita yang mual parah selama kehamilan justru memiliki risiko tinggi mengalami keguguran. Hal ini menandakan jika kondisi morning sickness dan kehamilan sehat tak dapat sekonyong-konyong disimpulkan dari ada atau tidaknya kondisi morning sickness.

Oleh karenanya, tak perlu ada yang dikhawatirkan secara berlebih terkait kondisi janin Anda kendati Anda tidak mengalami morning sickness seperti ibu hamil pada umumnya. Tetap jaga kondisi kesehatan Anda dan janin, konsumsi makanan yang berprotein tinggi, dan jangan lupa untuk selalu memeriksakan kondisi kehamilan Anda secara rutin agar Anda dapat memastikan kondisi janin Anda senantiasa dalam kondisi aman.

Read More