Category Kehamilan

Waspada Gejala Ini Saat Hamil 39 Minggu

Pada usia kehamilan di 39 minggu, adalah usia di mana kandungan sudah memasuki akhir dari kehamilan, atau masa-masa menjelang kelahiran. Selain itu, usia 39 minggu bayi dianggap sudah cukup bulan untuk lahir.

hamil

Pasalnya, pada minggu tersebut paru-paru dan otak masi terus berkembang dan akan terus berkembang saat si kecil telah lahir sekalipun. Faktanya, otak bayi akan mencapai ukuran sepenuhnya atau sempurna sekitar dua tahun lagi dan paru-paru akan matang saat si kecil usia 3 tahun.

Gejala yang muncul saat hamil 39 minggu

Namun, selain pertumbuhan bayi Anda pun perlu memperhatikan beberapa gejala yang muncul saat usia kandungan 39 minggu. Berikut beberapa gejalanya:

1.       Kesulitan tidur

Pada usia hamil 39 minggu, mungkin Anda akan mengalami kesulitan tidur malam hingga menjelang kelahiran. Kondisi ini terjadi karena ukuran perut yang semakin besar dan membuat Anda menemukan posisi yang nyaman, serta rasa gugup dan kecemasan yang membuat Anda tetap terjaga dan sulit tidur.

Cobalah untuk untuk membuat tempat tidur senyaman mungkin. Gunakan juga banyak bantal tambahan untuk menyangga perut agar tetap nyaman dan tidak sakit pinggang.

2.       Keluarnya mucus plug

Mucus plug adalah gumpalan lendir yang menutupi mulut rahim. Keluarnya mucus plug menandakan bahwa mulut rahim sudah mulai menipis dan mengalami pembukaan. Nah, hal ini menandakan bahwa persalinan akan segera terjadi.

Pada usia kehamilan 39 minggu, cairan putih yang keluar berupa keputihan yang bening, merah muda atau sedikit berdarah, hal itulah yang disebut mucus plug. Jadi, jika kondisi ini terjadi pada Anda ada baiknya untuk segera menghubungi layanan kesehatanatau kunjungi dokter Anda.

3.       Ketuban pecah

Seperti yang kita ketahui, pecah ketuban bisa menjadi awal tanda bahwa persalinan akan terjadi, dan hal ini sangat mungkin terjadi pada minggu 39 minggu kehamilan. Cairan ketuban dapat berupa tetesan ataupun keluarnya cairan yang banyak dan itu berarti kantung ketuban di sekitar bayi Anda telah pecah.

Saat hal ini terjadi Anda disarankan untuk mengunjungi dokter atau ke rumah sakit. Akan tetapi, jika cairan ketuban yang keluar memiliki bau busuk atau Anda mengalami demam sebelum ketuban pecah, bisa jadi hal ini menjadi indikasi terjadinya infeksi yang dikenal korioamnionitis. Kondisi tersebut mengharuskan Anda untuk langsung mendatangi layanan kesehatan karena Anda membutuhkan penanganan dengan segera.

4.       Preeklampsia

Gejala lain yang harus Anda waspadai saat hamil usia 39 minggu adalah preeklampsia. Pada beberapa calon ibu dengan gangguan tekanan darah sangat dekat dengan preeklampsia. Dengan kondisi tersebut, ibu hamil biasanya akan mengalami bengkak pada wajah dantangan, sakit kepala, mual dan muntah, penambahan berat badan yang mendadak, sesak napas, dan perubahan pengelihatan.

Selain beberapa gejala di atas, pada kehamilan usia 39 minggu ada pula gejala lain yang muncul seperti

·         Kontraksi Braxton Hicks, adalah kontraksi yang dikenal sebagai kontraksi palsu dan biasanya terjadi pada trimester ketiga kehamilan. Kondisi ini ibu hamil mengalami perut kencang seperti kram. Pada hamill 39 minggu kontraksi palsu sering sekali muncul dan akan sering terjadi.

·         Aktivitas janin, pada kehamilan di minggu ke-39 rahim akan terasa sempit dikarenakan janin yang semakin membesar dan hal tersebut dapat mempengaruhi gerakan janin. Namun, Anda perlu terus memantau pergerakan janin setia harinya.

·         Mulas dan gangguan pencernaan, rasa mulas akan semakin terasa pada minggu-minggu menjelang persalinan. Namun Anda tak perlu khawatir, hal ini menandakan bahwa persalinan akan semakin dekat. Meskipun perut terasa tidak enak, namun perlu untuk tetap mengonsumsi makanan dan minuman supaya tubuh tidak kekurangan energi saat persalinan.

·         Nyeri panggul, kondisi ini pun akan Anda alami saat hamil 39 minggu. Pasalnya, saat nyeri terjadi kepala bayi terus menekan panggul Anda dan menyebabkan rasa tidak nyaman. Gejala ketidaknyamanan tersebut sama dengan rasa nyeri akibat menstruasi atau gangguan pencernaan. ·         Sakit punggung, banyak wanita yang merasakan nyeri punggung yang teramat sangat pada kehamilan 39 minggu. Hal ini sangat umum terjadi pada ibu hamil menjelang persalinan.

Read More

Selain Wanita, Pria juga Mengalami Gejala-gejala Kehamilan Ini

Mungkin banyak orang berpikir bahwa hanya wanita saja yang merasakan gejala kehamilan, seperti ngidam, mual, atau muntah. Namun tahukah Anda bahwa para suami atau pasangan juga bisa merasakan gejala kehamilan serupa. Gejala kehamilan tersebut disebut sebagai gejala kehamilan simpatik atau dikenal dengan sindrom couvade.

Sindrom couvade merupakan kondisi saat suami ikut mengalami gejala-gejala kehamilan. Menurut penelitian tahun 2005, sekitar 90% pria yang istrinya sedang hamil mengalami paling tidak satu gejala-gejala pada awal kehamilan. Lalu, apa saja gejala kehamilan pada pasangangan yang sering dirasakan?

Kecemasan

Entah karena alasan apa, pasangan Anda mungkin mendadak sering merasa gugup dan cemas. Ia mulai mencemaskan banyak hal yang mungkin menurut Anda tidak perlu dicemaskan. Misalnya, tiba-tiba takut akan gelap atau kebisingan. Namun sejauh ini belum ada penelitian yang mampu mengungkapkan fenomena kecemasan tersebut.

Akan tetapi menurut penuturan dari beberapa orang yang telah memiliki anak. Kecemasan itu dikarenakan ketakutan suami akan hal-hal yang mungkin terjadi pada ibu maupun bayi yang ada dalam kandungan. Bisa juga karena kecemasan selama persalinan berlangsung. Sehingga kemudian suami bersikap ekstra hati-hati dan mencemaskan ini-itu.

Nafsu Makan Meningkat

Gejala kehamilan pada pasangan yang umumnya dirasakan adalah perubahan nafsu makan. Ternyata, peningkatan nafsu makan tidak hanya terjadi pada ibu hamil. Dalam beberapa kasus, justru pasangan atau suami menjadi gila makan padahal sebelumnya tidak demikian. Di sisi lain, justru Anda lebih stabil dalam mengendalikan nafsu makan.

Emosi Tidak Stabil

Ketidakstabilan mood atau emosi adalah salah gejala kehamilan pada pasangan. Selama masa kehamilan, Anda mungkin akan menemukan suami mudah sekali berubah mood. Suatu waktu Ia tampak senang, tapi di waktu yang lain Ia bisa terlihat sedih ataupun marah tiba-tiba. Jika Anda menemukan gejala ini pada pasangan, segeralah tenangkan mereka.

Ketidakstabilan emosi itu bisa dipicu oleh perasaan yang bercampur aduk. Senang lantaran akan memiliki bayi tapi juga takut akan kerepotan nantinya. Hal ini cukup wajar terjadi, terlebih bagi pasangan yang baru saja menikah dan memiliki anak pertama.

Menyakiti Dirinya Sendiri

Pernahkah Anda menemukan suami mencubit atau memukul dirinya sendiri saat Anda mengalami kontraksi atau kesakitan? Jika iya, itu merupakan gejala kehamilan yang juga terjadi pada pasangan. Hal tersebut terjadi lantaran suami juga ingin berbagi rasa sakit selama kehamilan Anda.

Morning Sickness Meningkat Dua Kali Lipat

Apabila Anda beranggapan hanya ibu hamil saja yang mengalami morning sickness, nyatanya tidak demikian. Saat masa kehamilan, suami juga bisa mengalami morning sickness yang sama atau bahkan dua kali lebih parah. Ia bisa merasa mual, lelah, lemas dan bahkan muntah sepanjang hari. Fenomena tersebut bukanlah suatu hal yang aneh.

Peningkatan Berat Badan

Menurut sebuah penelitian, selama masa kehamilan istrinya, rata-rata suami mengalami peningkatan berat badan hingga 14 kilogram. Gejala ini terjadi lantaran para calon ayah dilanda kecemasan akan perubahan hidup yang akan dialaminya. Rasa cemas tersebut kemudian mendorong mereka mencari kenyamanan, antara lain dengan makan lebih banyak sehingga berat badan ikut bertambah. Itulah beberapa gejala kehamilan yang dapat melanda pasangan laki-laki. Antisipasi hal-hal tersebut dengan mempersiapkan mental dan selalu menjaga pola hidup sehat sepanjang hari, agar Anda dapat membantu istri menjalani kehamilan dengan lancar, tanpa menambah kerepotannya.

Read More

10 Tips Kehamilan untuk Kesehatan Ibu dan Janin

Tips kehamilan sehat bukan hanya terbatas pada cara menjaga konsumsi makanan bergizi bagi calon buah hati. Beberapa di antaranya justru banyak yang mengarah pada aktivitas fisik dan psikis, untuk menunjang kondisi bayi dalam kandungan. Nah, berikut ini adalah beberapa tips untuk mendukung kesehatan selama periode kehamilan.

1. Hentikan Kebiasaan Buruk

Menjaga kesehatan bukanlah hal yang mudah. Apalagi bila selama ini belum pernah sekalipun menerapkan pola hidup sehat. Sambil menunggu saat kehamilan tiba bersama pasangan, ada baiknya Anda mencoba untuk menerapkan gaya hidup sehat. Misalnya, berhenti rokok, menghindari alkohol, serta istirahat yang cukup.

2. Gunakan Sunscreen

Tips kehamilan sehat selanjutnya adalah dengan rutin menggunakan sunscreen sebelum beraktivitas di luar rumah. Mengapa harus memakai tabir surya? Sebab, kulit wanita hamil cenderung lebih sensitif. Jadi, sebaiknya ibu hamil memakai sunscreen dengan SPF 30+ untuk menjaga kondisi kulit.

3. Tetap Olahraga

Olahraga adalah anjuran bagi siapapun yang ingin hidup sehat, tak terkecuali bagi ibu hamil. Lakukan olahraga seperti biasanya. Dengan catatan, olahraga masih dalam taraf ringan dan memperhatikan kondisi kandungan bila sudah membesar.

4. Mempersiapkan Kebutuhan Setelah Persalinan

Penting bagi setiap calon orangtua untuk menghitung waktu kelahiran si kecil. Hal ini dilakukan agar ada persiapan yang matang saat persalinan tiba. Anda bisa mencatat hari perkiraan lahir (HPL), menyiapkan baju yang akan digunakan usai melahirkan, hingga menyiapkan musik yang ingin didengarkan.

5. Belajar Menjadi Ibu

Sebagai calon ibu, Anda juga harus banyak belajar dari buku maupun pengalaman orang-orang terdekat. Misalnya, memahami cara merawat bayi saat rewel atau cara memandikan bayi dengan benar di usia tertentu.

6. Mengonsumsi Buah

Buah-buahan merupakan makanan bernutrisi yang dibutuhkan bagi perkembangan janin serta kesehatan ibu. Buah diperkaya antioksidan untuk membantu ibu rileks serta memenuhi kebutuhan vitamin dan mineralnya.

7. Penuhi Kebutuhan Asam Folat

Asam folat bisa diperoleh dari sayuran hijau seperti bayam, brokoli, asparagus serta kacang-kacangan. Asam folat berperan dalam pembentukan janin, terutama pada trimester pertama kehamilan.

8. Pilih Sepatu yang Tepat

Sebelum memasuki usia kehamilan besar, anda bisa menggunakan sepatu lama dengan ukuran atau ketinggian sesuai keinginan. Akan tetapi, saat masa kehamilan memasuki trimester kedua, sebaiknya segera hentikan kebiasaan ini. Anda bisa mengganti sepatu dengan tipe flatshoes untuk menjaga kondisi tubuh serta memberikan kenyamanan saat bepergian.

9. Jaga Berat Badan

Berat badan ketika hamil memang akan bertambah secara signifikan. Itulah sebabnya, penting untuk mencatat setiap kenaikan berat badan dan membandingkannya dengan berat badan normal di masa kehamilan.

10. Ketahui Saat Tepat Hubungi Dokter

Untuk menghindari kepanikan, sebaiknya cari tahu saat yang tepat untuk menghubungi dokter ketika terjadi kontraksi pada kehamilan. Hal ini akan mengurangi risiko buruk yang mungkin terjadi. Itulah beberapa tips kehamilan sehat yang direkomendasikan. Penerapannya bisa dilakukan sebelum hamil hingga menunggu si kecil lahir. Dengan mempraktikkan tips di atas, semoga kesehatan Anda dan si kecil tetap terjaga, hingga persalinan tiba dan seterusnya.

Read More

Dilema Berat Wanita Setelah Melahirkan, Memilih Bekerja Atau Di Rumah?

Bingung harus mempertahankan karir dan pendapatan atau mengasuh bayi? Memilih bekerja atau di rumah memang rumit, karena persoalan ini tidak hanya melulu seputar masalah finansial saja. Dewasa ini, banyak wanita dari berbagai latar belakang ekonomi yang lebih memilih mengasuh anak di rumah. Jika Anda termasuk yang masih bingung memilih bekerja atau di rumah, poin-poin berikut mungkin bisa membantu Anda membuat keputusan:

  1. Finansial

Kondisi finansial tentunya adalah faktor penting dalam memilih bekerja atau di rumah. Biaya-biaya kebutuhan primer seperti sandang, pangan, papan, dan kesehatan harus dipertimbangkan dengan masak-masak. Setiap rumah punya kebutuhan finansial yang berbeda-beda, jadi tentunya pilihan ini kembali lagi kepada perhitungan pendapatan dan biaya yang dibutuhkan.

Diskusikan masalah finansial ini dengan pasangan, dan jika Anda berdua membutuhkan bantuan, coba diskusikan dengan ahli finansial untuk memberikan solusi secara profesional.

  1. Preferensi Pribadi

Perasaan Anda penting dalam memilih bekerja atau di rumah, karena akan ada pengaruhnya terhadap kehidupan anak juga. Para ahli mengatakan bahwa tingkat kepuasan ibu dan kualitas waktu yang diluangkan bersama anak adalah komponen terbesar terhadap perkembangan intelektual dan emosional anak, serta menentukan kemampuannya untuk sukses di kemudian hari. Artinya, ibu yang berbahagia terhadap kualitas hidupnya akan lebih puas dan memiliki hubungan dengan anak yang lebih baik.

  1. Dukungan Pasangan

Dukungan pasangan juga penting dalam memilih bekerja atau di rumah. Jika pasangan tidak puas dengan keputusan Anda untuk di rumah, maka mereka dikhawatirkan menjadi enggan membantu kebutuhan rumah, membesarkan anak, dan sebagainya. Sebaliknya, jika memilih bekerja, maka bisa saja pasangan menilai tindakan Anda egois. 

Daripada mengambil keputusan secara terburu-buru, coba evaluasi dalam jangka waktu 6 bulan kondisi yang sedang berjalan. Pikirkan potensi-potensi yang mungkin muncul dan cara mengatasinya, misalnya jika ibu bekerja maka harus ada solusi antar jemput anak dan sebagainya.

  1. Dukungan Teman

Apapun keputusan dari memilih bekerja atau di rumah, pastikan Anda punya dukungan dari teman atau keluarga yang siap mendengarkan. Jika memilih tinggal di rumah, Anda akan menemukan wanita lain dengan pilihan yang sama di lingkungan sekitar rumah. Jika memilih bekerja, Anda juga disarankan untuk bersosialisasi dengan wanita yang memiliki kondisi sama. Komunitas ini akan memberikan bantuan dan dukungan karena paham akan dilema yang dihadapi.

  1. Karir dan Lingkungan Kerja

Posisi karir dan lingkungan kerja yang bersahabat akan mempersulit memilih bekerja atau tinggal di rumah. Sebaliknya, jika pimpinan kantor tidak fleksibel dan pengertian, maka akan mudah untuk memilih tinggal di rumah. Namun sebelum Anda gegabah, pertimbangkan  juga kemungkinan untuk kembali bekerja setelah berhenti dari perusahaan sekarang. Cari tahu cara untuk tetap relevan di bidang pekerjaan Anda, jika dibutuhkan. 

  1. Kultur Sosial

Tradisi atau norma-norma sosial sering mendikte wanita untuk memilih tinggal di rumah daripada bekerja. Wanita karir mungkin akan merasa bersalah jika harus meninggalkan anak di rumah saat bekerja. Banyaknya penekanan terhadap asuhan ibu demi kebaikan anak juga akan membuat pilihan ini kian dilematis.

Terlepas dari didikan dan normal sosial, cara terbaik adalah menganalisa kembali kebutuhan Anda, termasuk target dan tujuan dalam hidup. Prioritaskan kebahagiaan Anda karena ibu yang bahagia membuat keluarga lebih bahagia.

Apapun keputusan Anda dalam memilih bekerja atau tinggal di rumah, ingat bahwa tidak ada yang sempurna dalam membesarkan anak. Cari tahu definisi orangtua terbaik menurut Anda dan jangan menyesal terhadap perubahan yang terjadi dari keputusan Anda. Terakhir, ingat bahwa tidak ada hal yang mutlak. Artinya Anda juga harus fleksibel dan berpikiran terbuka. Perubahan pasti akan terjadi, dan saran terbaik untuk Anda adalah tetap menjalani dengan penuh semangat dan keikhlasan.

Read More